Buleleng
Kabupaten
Buleleng terletak di bagian paling utara Pulau Bali yang mempunyai
wilayah terluas diantara 9 kabupaten dan kota di Bali/ yaitu hampir 1/3
luas Pulau Bali (± 1365,88 hektar) dengan batas / sebelah barat
Kabupaten Negara; sebelah selatan Kabupaten Tabanan, Badung, dan
Bangli; sebelah timur Kabupaten Karangasem dan sebelah utara Laut Jawa
dan Bali.
Seperti halnya dengan Bali pada umumnya,
Buleleng beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 1365 mm
pertahun, musim hujan berkisar antara bulan Oktober s/d April sedangkan
kemarau antara bulan April s/d Oktober.
Kabupaten Buleleng yang meliputi area
1370 km 2 terbagi atas 9 kecamatan yaitu Kecamatan Tejakula,
Kubutambahan, Sawan, Buleleng, Sukasada, Banjar, Busungbiu, Seririt dan
Gerokgak yang terdiri atas 127 desa, 19 kelurahan dan 166 buah desa
adat.
Sesuai dengan Perda Propinsi Bali Nomor 4
tahun 1999 bahwa di Kabupaten Buleleng telah ditetapkan menjadi 2 buah
kawasan Pariwisata yaitu Kawasan Pariwisata Kalibukbuk yang lebih
terkenal dengan sebutan Kawasan Lovina yang mempunyai luas pengembangan
3.542 Ha yang meliputi 7 buah desa yaitu : Desa Pemaron, Tukad Mungga,
Anturan, Kalibukbuk, Kaliasem, Temukus, Tigawasa dan Kawasan
Pariwisata Batu Ampar yang terletak di sebelah barat Bali Utara dengan
luas pengembangan 14.124 Ha, yang meliputi 5 buah desa yaitu : Desa
Penyabangan, Bonyupoh, Pemuteran, Semberkima, dan Pejarakan.
Disamping perhubungan darat Kabupaten
Buleleng juga memiliki perhubungan laut berupa Dermaga Pelabuhan
Celukan Bawang di Kecamatan Gerokgak dan Pelabuhan Tradisional Sangsit
di Kecamatan Sawan. Buleleng juga telah dilengkapi dengan sarana
perhubungan udara berupa Air Strip Letkol Wisnu di Desa Sumberkima
Kecamatan Gerokgak yang diharapkan dapat mempelancar aksesibilitas ke
daerah Buleleng.
WISATA TIMUR KABUPATEN BULELENG
Air Terjun Les
Air Terjun Les ini terletak di Desa Les
Kecamatan Tejakula, ± 38 km timur dari Kota Singaraja. Air Terjun ini
mencapai tinggi kurang lebih 30 meter yang dikelilingi oleh pemandangan
alam yang masih alami dengan latar belakang perbukitan. Disamping air
terjun, desa ini juga mempunyai potensi yang tidak kalah menariknya
seperti pantai Desa Les yang terletak di sebelah utara tidak jauh dari
air terjun ini yang memiliki keindahan pemandangan bawah laut.
Air Sanih
Obyek wisata tirta ini merupakan kolam
renang alami. Terletak di Desa Sanih Kecamatan Kubutambahan ± 17 km
sebelah timur kota Singaraja. Air Sanih terkenal dengan sumber mata air
yang muncul tanpa henti di pojok tenggara kolam renang ini. Mata air
ini merupakan aliran sungai bawah tanah yang berasal dari Danau Batur.
Ada dua kolam ditempat ini, satu untuk
orang dewasa dan satu untuk anak-anak. Beberapa meter di sebelah
utaranya dikelilingi oleh laut yang relatif aman untuk berenang dan
aktifitas olah raga air lainnya atau hanya sekedar berbaring
bermalas-malasan di atas pasir pantai yang hitam. Disekitar obyek ini
telah tersedia beberapa penginapan kecil dan restoran dan areal parker
sebagai sarana pendukungnya.
Desa Julah
Merupakan desa tua yang masih banyak
menyimpan peninggaln megalitik. Terletak di Kecamatan Tejakula ± 29 km
sebelah timur Kota Singaraja. Desa ini dipercaya sebagai desa kuno di
Bali . Dari tatanan desanya, desa ini menyerupai desa-desa kuna lainnya
di bali seperti Desa Tenganan di Kabupaten Karangasem. Desa yang
terkenal dengan Baris sakralnya ini masih memiliki bangunan rumah
tradisional serta Pura Desa yang dipercaya sebagai pura tertua di Bali,
dan juga memiliki kerajinan tenun dengan ciri khas tersendiri.
Desa Sembiran
Desa Sembiran merupakan perkampungan
tertua abad megalithic terletak di daerah perbukitan di Kecamatan
Tejakula ± 30 km timur kota Singaraja. Begitu memasuki bagian depan desa
ini, seluruh rumah yang tersusun, dilihat dengan sangat mempesona.
Meski kemajuan teknologi sudah merambat kesisi kehidupan desa ini, namun
sisi kehidupan upacaranya masih kelihatan di desa ini. Berbagai
arkeolog dunia sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi desa ini.
Pura Beji, Sangsit
Lingkungan pura ini berlokasi di Desa
Sangsit, Kecamatan Sawan lebih kurang 8 km di sebelah timur Kota
Singaraja dan masuk sekitar 500 meter ke jalan menuju pantai. Lokasi
ini mudah dicapai dengan kendaraan roda empat. Pura yang dimiliki oleh
krama/anggota subak desa ini berada di tengah-tengah wilayah pertanian.
Daya tarik dari pura ini adalah hampir semua bagian dari pura ini
dihiasi oleh ukiran style Buleleng berbentuk tumbuh-tumbuhan merambat
dan motif bunga ciri khas Bali Utara. Tidak ada bagian yang kosong
tanpa ukiran. Lingkungan Pura Beji merupakan sebuah lingkungan Pura
untuk memuja Dewi Sri, sebagai Dewi yang dikaitkan dengan pertanian
khususnya dipercayai sebagai Dewi yang menciptakan padi sebagai bahan
makanan pokok. Lingkungan Pura ini juga dikenal sebagai lingkungan Pura
Subak untuk Desa Adat Sangsit, dimana seluruh bagian lingkungan Raja
dihiasi ukiran style Buleleng dalam bentuk tumbuh-tumbuhan yang
merambat dan motif bunga yang mencirikan abad ke 15, jaman Raja
Majapahit. Pada pintu gerbang lingkungan pura dihiasi dua ekor naga
sebagai penjaga Pura. Daya tarik yang unik dari lingkungan pura ini
adalah ukiran yang memenuhi semua bagian pura seakan-akan tidak satu
tempat pura yang tidak dihiasi dengan ukiran. Ukiran ini dicat
warna-warni sehingga lingkungan pura ini menjadi lebih unik lagi.
Lingkungan Pura ini berlokasi di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan
Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.
Pura Meduwe Karang, Kubutambahan
Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah
salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan
mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan
mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di
tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan
waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit,
Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini
terdiri dar i tiga tingkat yaitu “Jaba Pura” di luar lingkungan pura
atau “Jabaan”, “Jaba Tengah”, dan “Jeroan”, bagian paling dalam adalah
yang paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura,
yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh
empat jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan
ceritera Ramayana.
Patung yang berdiri di tengah-tengah
memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh
kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah
utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya
terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam
manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya
terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan. Tangan
kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di
sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk
yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura
ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan
Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha),
yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini
terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.
Bukakak
Upacara Bukakak terdapat di Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Desa Sangsit Kecamatan Sawan ± 8 km timur Kota Singaraja. Upacara ini sangat unik karena hanya terdapat di Desa Sangsit yang dilakukan setiap 2 tahun sekali dan diselingi dengan upacara ngusaba setiap tahunnya. Upacara ini berkaitan dengan “Upacara Ngusaba”, upacara yang bertujuan untuk mendoakan agar para petani diberikan panen yang baik. Dalam upacara ini, dibuat “Babi Guling” (seekor babi muda yang dipanggang) yang pada waktu memanggangnya hanya sebagian babi tersebut dipanggang matang. Babi guling ini kemudian oleh anggota subak diarak dalam suatu prosesi diiringi gemelan Tik Nong, menjelajahi areal persawahan untuk memohon berkah.
Upacara Bukakak terdapat di Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Desa Sangsit Kecamatan Sawan ± 8 km timur Kota Singaraja. Upacara ini sangat unik karena hanya terdapat di Desa Sangsit yang dilakukan setiap 2 tahun sekali dan diselingi dengan upacara ngusaba setiap tahunnya. Upacara ini berkaitan dengan “Upacara Ngusaba”, upacara yang bertujuan untuk mendoakan agar para petani diberikan panen yang baik. Dalam upacara ini, dibuat “Babi Guling” (seekor babi muda yang dipanggang) yang pada waktu memanggangnya hanya sebagian babi tersebut dipanggang matang. Babi guling ini kemudian oleh anggota subak diarak dalam suatu prosesi diiringi gemelan Tik Nong, menjelajahi areal persawahan untuk memohon berkah.
Pura Dalem Jagaraga
Pura Dalem Jagaraga terletak di Desa
Jagaraga, Kecamatan Sawan 11 km sebelah timur Kota Singaraja, dipinggir
jalan jurusan Singaraja-Sawan. Desa ini terkenal dengan “Puputan
Jagaraga” perang melawan Belanda pada tahun 1848 dibawah komando I
Gusti Ketut Jelantik. Lingkungan Pura Dalem ini memiliki keunikan
tersendiri yaitu relief mobil kuno yang dikendarai oleh orang yang
bersenjata, relief pesawat jatuh, relief orang Belanda minum bir dan
lain-lain. Juga patung “Men Brayut” cerita Rakyat Bali tentang seorang
ibu dengan anak banyak yang masih kecil bergayutan minta digentong
semua. Pura ini tak bisa ditemukan di lain tempat di Bali
WISATA TENGAH KABUPATEN BULELENG
Gedong Kertya dan Museum Buleleng
Gedong Kertya dan Museum Buleleng
terletak di lingkungan Pura Seni Sasana Budaya Singaraja, tepatnya di
jalan Veteran no. 23 Singaraja. Gedong Kertya adalah perpustakaan
lontar yng ada hanya satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia.
Terdapat koleksi dan salinan teks tulisan tangan yang berhubungan
dengan Kesusastraan Bali, mitos, pengobatan, mantra-mantra, sastra
religius dan lain-lain. Terdapat juga lontar berisikan gambar berbentuk
komik yang disebut “prasi”. Terdapat sekitar 4000 lontar tersimpan di
perpustakaan ini yang disimpan dalam sebuah kotak kayu.
Beberapa meter di sebelah timur Gedong
Kertya, terdapat Museum Buleleng yang didirikan pada tanggal 30 Maret
2002, dimana tersimpan koleksi-koleksi yang meliputi benda-benda
Peninggalan Purbakala seperti sarkofagus, patung, senjata dan lainnya.
Benda-benda Seni seperti Lukisan, kain-kain, Kerajinan Emas dan perak
dan lainnya benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Bali
Utara seperti alat pertanian dan alat nelayan.
Pelabuhan Buleleng
Terletak disebelah pesisir utara Kota
Singaraja. Dijaman dulu ketika Singaraja sebagai ibu kota dari Nusa
Tenggara adalah merupakan pusat pelayaran yang penting. Keputusan
memindahkan Ibu Kota Propinsi Bali dari Bali Utara ke Bali Selatan
adalah berdasarkan dibaginya Nusa Tenggara menjadi 3 propinsi, membuat
Pelabuhan Buleleng menjadi kurang berfungsi. Kemerosotan pelabuhan
buleleng mencapai puncaknya ketika pembangunan Pelabuhan Celukan Bawang ±
40 km arah Barat Singaraja.
Namun sejak Tahun 2005 bekas Pelabuhan
Buleleng ini telah ditata oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng
dengan penataan taman serta bekas dermaga kayu yang sudah usang
diperbaharui dilengkapi dengan sarana restauran terapung.
Puri Buleleng
Sampai saat ini rakyat Buleleng masih
bangga memiliki sisa bangunan Puri Raja Buleleng yang dibangun Dinasti
Ki Barak Panji Sakti yang tersohor. Dua puri yang ada sekarang ini
diantaranya satu terdapat di Jalan Veteran dan lainnya terdapat di Jalan
Gajah Mada. Bangunan yang ada di dalamnya baik tempat tidur, kamar
tamu, pertamanan, merajan (tempat suci), perpustakaan dan
senjata-senjata, masih tersimpan rapi dan disakralkan oleh keluarga
raja. Perhatian pemerintah daerah terhadap puri ini sudah menampakan
kemajuan. Ini terbukti dengan datangnya bantuan pemerintahan dengan
merehabilitasi bagian-bagian beberapa bangunan kedua puri yang hampir
mendekati kerapuhan. Wisatawan bisa mengunjungi kedua puri ini kapan
saja terhitung mulai pukul 8.00 sampai 5.00.
Desa Beratan
Desa Beratan terletak disebelah selatan
Kota Singaraja. Kurang lebih berjarak hanya 1 km dari Pusat Pemerintahan
Kabupaten Buleleng. Desa ini dikenal sebagai pengrajin emas dan perak.
Pengrajin setempat memiliki style unik yang terkenal dengan Style
Beratan. Wisatawan dapat berkunjung ke tempat pengrajin bekerja sambil
melihat-lihat cara pengrajin mengolah bahan mentah menjadi bahan
kerajinan emas dan perak. Hasil karya mereka juga dipajangkan dan bila
berniat wisatawan boleh membeli.
Lovina
Kawasan Wisata Lovina ini merupakan kawasan wisata pantai dengan daya tarik utamanya pantai dengan air laut yang tenang, pasir berwarna kehitam-hitaman, dan karang laut dengan ikan-ikan tropisnya. Karena sifat lautnya yang tenang, Lovina ini sangat cocok untuk rekreasi air seperti menyelam, snorkling, berenang, memancing, berlayar, mendayung dan sekedar berendam di air laut. Disamping daya tarik tersebut di atas, dapat dicatat disini adanya ikan lumba-lumba dalam habitat aslinya. Ikan lumba-lumba yang jumlahnya ratusan ini dapat dilihat di pagi hari, kurang lebih satu kilometer lepas pantai. Ikan lumba-lumba yang menyelam, melompat di atas permukaan air dengan pemandangan untaian gunung di sebelah selatannya, langit kemerah-merahan pertanda terbitnya matahari, merupakan suatu pemandangan yang memberi daya tarik yang sangat memikat.
Kawasan Wisata Lovina ini merupakan kawasan wisata pantai dengan daya tarik utamanya pantai dengan air laut yang tenang, pasir berwarna kehitam-hitaman, dan karang laut dengan ikan-ikan tropisnya. Karena sifat lautnya yang tenang, Lovina ini sangat cocok untuk rekreasi air seperti menyelam, snorkling, berenang, memancing, berlayar, mendayung dan sekedar berendam di air laut. Disamping daya tarik tersebut di atas, dapat dicatat disini adanya ikan lumba-lumba dalam habitat aslinya. Ikan lumba-lumba yang jumlahnya ratusan ini dapat dilihat di pagi hari, kurang lebih satu kilometer lepas pantai. Ikan lumba-lumba yang menyelam, melompat di atas permukaan air dengan pemandangan untaian gunung di sebelah selatannya, langit kemerah-merahan pertanda terbitnya matahari, merupakan suatu pemandangan yang memberi daya tarik yang sangat memikat.
Kawasan Lovina ini juga ditunjang oleh
banyak daya tarik wisata di sekitarnya yang mudah dicapai. Daya tarik
pariwisata di sekitar Lovina antara lain : Air Panas Banjar, Wihara
Budaha, Air Terjun Gitgit, dan desa-desa sekitarnya yang sangat ideal
untuk mereka yang mencintai alam (ecotourism).
Secara resmi, kawasan ini disebut Wisata
Kalibukbuk, namun lebih dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Lovina.
Kawasan ini meliputi 2 kecamatan, yaitu Desa Pemaron, Desa Tukadmungga,
Desa Anturan dan Desa Kalibukbuk masuk Kecamatan Buleleng sedangkan
Desa Kaliasem dan Desa Temukus masuk Kecamatan Banjar. Kedua-duanya
terletak di kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng. Desa yang terletak
paling Timur yaitu Desa Pemaron (5 km Barat Singaraja) dan desa paling
Barat yaitu Desa Temukus (12 km Barat Singaraja). Pusat kawasan wisata
Lovina terletak 10 km dari kota Singaraja.
Kawasan wisata Lovina sementara ini
menjadi pusat fasilitas kepariwisataan di Kabupaten Daerah Tingkat II
Buleleng. Terdapat berbagai macam akomodasi, baik hotel berbintang,
hotel melati, pondok wisata maupun “homestay”, rumah makan, toko
cendramata, angkutan, pelayanan pertukaran uang (money changer),
pelayanan informasi pariwisata (tourist information service), telpon
(Wartel) dan lain-lainnya. Sebagai kawasan wisata dan pusat fasilitas
pariwisata di Buleleng, Lovina mendapat kunjungan yang terbesar dari
wisatawan yang datang ke Buleleng. Berdasarkan hasil survey pariwisata
tahun 1992, dari jumlah wisatawan yang menginap di Buleleng, 90 %
menginap di Lovina.
Lovina diberi nama oleh Almarhum Anak
Agung Panji Tisna. Konon nama Lovina diambil dari nama hotel kecil di
India yaitu “Lafeina” dimana beliau menginap dan menulis buku dengan
judul Ni Ketut Widhi (yang kemudian buku ini diterjemahkkan kedalam
beberapa bahasa dan untuk mengenang almarhum). Ada juga versi lain
Lovina ini diambil dari adanya dua pohon “santen” yang ditanam oleh
putra beliau yang kemudian tumbuh saling berpelukan. Jadi Lovina
berasal dari bahasa latin dengan arti saling mengasihi atau saling
menyayangi. Kemudian oleh Bupati Kepala Daerah tingkat II Buleleng,
Drs. I Ketut Ginantra selama masa jabatannya dari tahun 1988 sampai
1993, Lovina diartikan sebagai singkatan dari “Love” dan “Ina” artinya
“Cinta Indonesia”.
Air Terjun Gitgit
Air Terjun ini terletak di Desa Gitgit
Kecamatan Sukasada. Dari Kota Singaraja berjarak 11 km ke arah selatan
menuju Desa Pancasari dan Bedugul. Air terjun yang berketinggian ± 35
meter ini sangat asri dan memiliki panorama yang indah dan berada di
lingkungan yang berhawa sejuk.
Turun dengan jalan kaki setelah melewati
tempat Parkir Gitgit, beberapa pemuda lokal yang diorganisir oleh desa
adat setempat menawarkan jasa mengantar para wisatawan menuju wisata
air terjun yang indah ini. Disamping suara deburan air terjun dan
kicauan burung, hamparan sawah, perkebunan cengkeh dan kopi / begitu
pula tumbuhan bambu sepanjang jalan menuju air terjun menyuguhkan
suasana damai dan alami.
Rice Terrace Ambengan
Ambengan, sebuah desa yang posisinya di
atas bukit hijau di Kecamatan Sukasada yang jaraknya sekitar 6 km
sebelah selatan kota Singaraja. Karena letaknya di daerah perbukitan
serta mayoritas penduduknya bertani, desa ini dihiasi oleh hamparan
sawah yang sangat indah. Disamping potensi terraseringnya, Ambengan juga
memiliki lebih dari empat air terjun dan beberapa buah kolam alami
yang cukup lebar serta sangat eksotis yang sering disebut sebagai
sebuah taman yang tersembunyi, dimana para wisatawan bisa berenang
sambil menikmati hawa sejuk.
Sapi Gerumbungan
Sapi Gerumbungan adalah merupakan jenis
kesenian yang dipadukan dengan kegiatan olah raga yang biasa
dilaksanakan sekitar Bulan Agustus di Lapangan Desa Kaliasem Lovina
sekitar 11 km sebelah barat Kota Singaraja. Sapi Gerumbungan sejak jaman
dahulu sudah sangat digemari oleh para petani. Menjadi tradisi
diantara para petani, setelah selesai membajak sawahnya dan siap untuk
ditanami, para petani mengadakan sejenis hiburan, yang dikenal dengan
“Megrumbungan”. Gerumbungan itu berupa Genta besar yang digantungkan
pada leher sapi jantan Sepasang sapi yang sudah terlatih dihubungkan
pada lehernya dengan sebuah alat dari kayu yang disebut “uga”.
Megoak-Goakan
Megoak-goakan ini merupakan tarian rakyat yang acap kali dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi dan hanya terdapat di Desa Panji, Kecamatan Sukasada 6 km ke selatan dari Kota Singaraja. Nama megoak-goakan dikembangkan dari nama Burung Goak (Burung Gagak) ketika burung itu mengincar mangsanya kegiatan ini merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti sebagai Pahlawan Buleleng pada waktu menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.
Megoak-goakan ini merupakan tarian rakyat yang acap kali dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi dan hanya terdapat di Desa Panji, Kecamatan Sukasada 6 km ke selatan dari Kota Singaraja. Nama megoak-goakan dikembangkan dari nama Burung Goak (Burung Gagak) ketika burung itu mengincar mangsanya kegiatan ini merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti sebagai Pahlawan Buleleng pada waktu menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.
Desa Sambangan
Sambangan, sebuah desa yang posisinya di
atas bukit hijau di Kecamatan Sukasada yang jaraknya 6 km dari Kota
Singaraja. Desa Sambangan letaknya berdampingan dengan Desa Ambengan
yang hanya di batasi oleh sebuah jurang yang cukup lebar, karena itu
secara geografis juga tidak jauh berbeda diantara kedua desa tersebut.
Disamping dikelilingi oleh hamparan sawah (rice terrace) yang mempesona,
desa ini juga memiliki potensi air terjun serta sebuah bendungan yang
sangat cocok untuk wisata alam seperti trekking dan juga meditasi,
karena banyak memiliki tempat yang menawarkan ketenangan jiwa. Bagi
mereka yang ingin mengenang masa lalu dengan mandi di sungai, desa ini
memiliki banyak kolam-kolam alami disepanjang sungai dengan airnya yang
bersih.
Danau Buyan dan Danau Tamblingan
Danau Buyan dan Danau Tamblingan sering
dianggap sebagai danau kembar karena letaknya yang berdekatan. Dari segi
wilayah, Danau Buyan terletak di Desa Pancasari Kecamatan Sukasada dan
Danau Tamblingan terletak di Desa Munduk Kecamatan Banjar. Kedua danau
ini dapat di tempuh dari Kota Singaraja sejauh ± 24 km melalui Desa
Gitgit dan ± 42 km lewat Kota Seririt ke selatan menuju Desa Munduk.
Keaslian alam dikedua danau ini masih sangat dirasakan misalnya dengan
tidak adanya penggunaan perahu bermotor dikedua danau ini.
Air Panas Banjar
Terletak di Desa Banjar, Kecamatan Banjar
± 19 km sebelah barat dari Kota Singaraja dan ± 1 km sebelah barat
Wihara Budha. Air Panas Banjar dikenal sebagai sebutan Hot Spring sudah
tidak asing lagi bagi para praktisi pariwisata. Berbagai tamu dari
mancanegara telah mengunjungi wisata alam ini. Air panas yang muncul
dari perbukitan setempat dibuat bertingkat, ditingkat pertama terdiri
dari beberapa pancoran dimana wisatawan dapta mandi air panas. Kolam
kecil juga tersedia pada tingkatan ini. Pada tingkatan kedua kolam
dibuat lebih besar.
Air Terjun Melanting
Air terjun yang setinggi kurang lebih 15
meter ini berada ditengah-tengah hutan kopi dan cengkeh di penghujung
timur Desa Munduk Kecamatan Banjar ± 42 km sebelah selatan dari Kota
Singaraja. Deburan air dan suara burung kecil dan belalang ditambah
dengan suasana yang terpencil memberikan kesan alami bagi pengunjung
yang datang. Disamping Potensi air terjun dan Danau Tamblingan Desa
Munduk juga kaya akan potensi lainnya seperti perkebunan kopi dan
cengkehnya serta tanaman buah-buahan seperti jeruk dan perkebunan
bunagn, hamparan sawah (Rice Terrace) yang eksotis sangat digemari oleh
wisatawan untuk trekking.
Desa Sidetapa
Merupakan salah satu desa tua di Bali
Utara Bagian Tengah, tepatnya berlokasi 20 km sebelah barat Kota
Singaraja. Yang menarik dilihat adalah bentuk rumah yang berpola persegi
panjang terbagi tiga bagian : jeroan, jaba tengah, dan bencingah.
Ketiga bagian ini disekat dengan tembok kayu berpintukan kayu. Di jeroan
terdiri dari beberapa sekatan yang lebih kecil untuk tempat suci.
Disini adalah semua tempat suci ada dalam rumah (tidak seperti umumnya
orang Bali , yang menempatka posisi tempat suci tidak di dalam rumah
tetapi diluar rumah). Di jaba tengah bagian adalah tempat untuk leluhur,
dapur, dan ruang tinggal, bencingah, ruang pintu masuk menuju rumah.
Brahma Budha Wihara
Terletak di Desa Banjar Tegeha, 18 km
arah barat Singaraja. 2 km ke selatan dari jalan raya
Singaraja-Seririt. Wihara ini terletak di kaki bukit menghadap ke laut.
Brahmavihara-Arama lebih dikenal dengan nama Wihara Buddha Banjar
merupakan vihara buddha yang terbesar di Bali . Areanya cukup luas. Dari
tempat ini dapat melihat pemandangan Laut Bali Utara yang membentang
dari arah timur sampai ke barat karena letaknya di daerah perbukitan,
hal ini menjadikan vihara buddha ini memiliki daya tarik yang kuat untuk
wisatawan baik mancanegara maupun nusantara. Tugu yang mengesankan
adalah lonceng kuil yang besar, sumbangan dari Thailand , fanel-fanel
yang mencerminkan cerita budha, dan juga patung budha. Memberikan tempat
ideal bagi mereka yang mencari tempat untuk meditasi.
WISATA BARAT KABUPATEN BULELENG
Rice Terrace Busungbiu
Hampar persawahan (rice terrace) ini
terdapat di penghujung selatan Desa Busungbiu -+ 39 km sebelah selatan
kota singaraja, di pinggir jalan utama Singaraja – Denpasar via pupuan.
Hamparan persawahan ini terlihat sangat menakjubkan yang dilatar
belakangi oleh perbukitan hijau dan ditengah – tengah persawahan
terlihat untaian sungai yang berkilauan dengan airnya yang mengalir
sepanjang tahun.
Aktifitas petani di sekitar persawahan
membawa para pengunjung pada suasana pedesaan yang alami. Dari areal
parkir yang terletak dipinggir jalan ini juga disediakan panggung yang
terbuat dari kayu sehingga para pengunjung dapat menikmati hamparan
persawahan dengan leluasa.
Desa Pemuteran
Pemuteran terletak dipesisir barat dari
pulau Bali ± 55 km arah barat kota Singaraja dan 30 km dari Gilimanuk.
Letaknya yang berada diantara gugusan perbukitan dan laut menjadikan
tempat ini menjadi sangat eksotis. Pantai Pemuteran merupakan obyek
wisata yang sangat cocok bagi wisatawan yang suka tempat sepi dan jauh
dari kebisingan.
Karang laut yang dipelihara secara
profesional dan proyek penangkaran penyu juga ada di desa ini. Meskipun
telah dikembangkan sebagai obyek wisata, pantai ini masih menunjukkan
keasliannya. Masyarakat pantai masih mempergunakan peralatan
tradisional seperti perahu dan jaring untuk melakukan aktifitasnya
sehari-hari. Di desa ini juga terdapat Pura Pemuteran yang terkenal
dengan sumber air panasnya. Berbagai fasilitas wisata sudah tersedia di
tempat ini, dari hotel melati sampai hotel bintang lima , restoran
serta dive center dengan mudah dapat ditemui disini.
Pura Pulaki
Terletak di Desa Banyupoh,Kecamatan
Gerokgak ± 53 km sebelah barat dari Kota Singaraja. Pura ini termasuk
salah satu Pura Dang Khayangan (Penyungsung Jagat Bali) yang ada di Bali
(seperti halnya Pura Besakih di Kabupaten Karangasem, Pura Uluwatu di
Kabupaten Badung dan lainnya), yaitu suatu pura yang merupakan tanggung
jawab langsung oleh pemeluk Agama Hindu di Kabupaten, dalam hal ini
Kabupaten Buleleng.
Pura ini mempunyai pesanakan (keluarga)
pura yang letaknya berdekatan seperti pura Pemuteran, Pura Melanting,
Pura Kerta Kawat dan Pura Pabean. Masing – masing Pura ini difungsikan
untuk keperluan tertentu dalam kehidupan berspiritual di Bali . Ratusan
kera – kera hidup di sekitar wilayah Pura ini.
Makam Jaya Perana
Kuburan Jaya Perana dan Layon Sari ini
terletak di kawasan hutan belukar Teluk Terima, Desa Sumber Klampok,
Kecamatan Gerokgak, ± 67 km sebelah barat Kota Singaraja.
Kuburan ini merupakan bangunan kisah
romantis seperti cerita Romeo dan Juliet di Eropa atau Sampek Engthai di
Cina. Jaya Prana dan Layon Sari adalah merupakan pasangan suami isteri
yang sangat ideal pada masa Kerajaan Wanekeling Kalianget tempo dulu.
Karena kecantikannya sang raja jatuh cinta pada Layon Sari dan dengan
tipu muslihatnya dapat membunuh Jaya Prana.
Sedangkan Layon Sari yang tidak mau
diperistri oleh raja memilih bunuh diri untuk menyusul suami
tercintanya. Setiap Bulan Purnama dan Bulan Mati (Tilem) dan hari – hari
suci lainnya seperti Galungan, Kuningan, dan lain – lain banyak umat
melayat datang ke kuburan ini.
Taman Nasional Bali Barat
Terletak di bagian barat Pulau Bali, di
Des Sumber Klampok Kecamatan Gerokgak ± 70 km sebelah barat Kota
Singaraja. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mencakup area seluas 7700 km
2 , sebagian besar wilayahnya berada di wilayah Kabupaten Buleleng (di
Desa Sumber Klampok) dan sisanya di wilayah Kabupaten Jembrana.
Areal ini secara resmi dinyatakan sebagai
taman nasional melalui keputusan dirjen kehutanan no.46/kpts/sek/84
dengan tujuan melindungi dan melestarikan keberadaan flora dan fauna.
Fauna yang paling terkenal adalah “Jalak
Bali ” atau Bali Starling, satwa yang dilindungi. Areal ini adalah
habitat asli dari jalak putih yang tidak terdapat di tempat lain di
dunia. Bagi mereka yang ingin melihat spesies ini bisa berkunjung ke
TNBB melalui Tegal Bunden ± 1,5 km barat laut Desa Sumber Klampok.
Pulau Menjangan
Pulau Menjangan adalah Pulau Karang yang
terletak di ujung barat laut Pulau Bali. Pulau ini mudah dijangkau
lewat Labuhan Lalang di Desa Sumber Klampok Kecamatan Grokgak ± 55 km
sebelah selatan Kota Singaraja. Pulau Menjangan merupakan salah satu
tempaat menyelam terbaik di Dunia. Disini keindahan dan misteri
pemandangan bawah laut dapat ditemukan.
Kecantikan taman lautnya telah mampu
menarik perhatian para penyelam tingkat dunia. Pulau ini adalah bagian
dari TNBB. (Taman Nasional Bali Barat) dan semua kehidupan di pulau ini
dilindungi. Tidak diperkenankan memancing, mencari karang atau berburu
binatang disini.
Gebug Ende
Tari Gebug Ende ini terdapat di beberapa
desa di Kecamatan Grokgak, tetapi yang utamanya adalah di Desa Patas ±
40 km sebelah barat Kota Singaraja.
Meski kemajuan teknologi telah merambah
seluruh kehidupan masyarakat, namun di Bali cara – cara tradisional
masih tetap dipertahankan salah satunya adalah Tarian Gebug Ende ini.
Gebug Ende adalah merupakan suatu tarian yang gerakannya hampir sama
dengan gerakan silat tetapi memakai sarana berupa Tamiang (Perisai) yang
terbuat dari kulit sapi dan menggunakan rotan sebagai alat pemukulnya.
Tarian ini tidak ubahnya seperti sebuah perang tanding satu lawan satu
dengan saling membalas pukulan. Tarian ini biasanya dilaksanakan pada
saat kemarau panjang sekitar bulan Oktober dengan tujuan untuk memohon
hujan dan sebagai sarana untuk mengusir wabah penyakit.
Pengembangan Mutiara
Perairan di bagian barat Buleleng
memiliki banyak potensi yang sangat menarik untuk dinikmati oleh para
wisatawan. Disamping potensi keindahan alam bawah lautnya seperti di
Pulau Menjangan, juga terdapat pengembangan / budidaya mutiara seperti
yang terdapat di Desa Sumber Klampok ± 68 km sebelah barat Kota
Singaraja dan di Desa Penyambangan.
Sejak berabad – abad mutiara telah
dijadikan simbol kealiman dan kesucian, maka tidak heran mutiara banyak
dicari baik untuk tujuan bisnis maupun untuk dipakai sendiri. Para
wisatawan disini akan disuguhkan suatu pengalaman yang unik, dimana
wisatawan akan bisa melihat proses pengolahan mutiara dari yang masih di
dalam kerang sampai yang sudah jadi.
Bali Handara Kosaido
Di dataran tinggi Bali yang penuh dengan
tumbuhan hijau, dalam ketinggian diatas 1000 meter dari permukaan laut,
disinilah Bali Handara Kosaido Country Club berdiri. Dataran tinggi
ini dianugerahi iklim sempurna yang ideal untuk bermain golf di
kepulauan tropis yang penuh daya pesona. Lokasi terletak sekitar 66
kilometer dari lapangan udara internasional Ngurah Rai, Bali ,
dikelilingi hutan tropis dan diperindah lagi dengan pemandangan danau
Buyan. Dengan suhu udara rata-rata 16-20 derajat Celcius, Bali Handara
merupakan tujuan wisata golf yang paling nyaman di Bali .
Semua kamar memiliki teras pribadi yang
menghadap ke lubang golf, dilengkapi dengan alat pemanas yang bisa diset
sesuai kebutuhan dan mini bar. Luxury Bungalow dibangun dengan gaya
Bali dan semua ruangan dilengkapi dengan kamar mandi pribadi, alat
pemanas yang bisa diset sesuai kebutuhan, televisi dengan satelit dan
minibar. Lapangan golf publik dengan 18 lubang yang dirancang oleh
Peter Thomson, Michael Wolferidge & Associates dan Driving Range .
Fasilitas tersedia 2 Lapangan Tenis, Pusat Kebugaran & Kesehatan,
Toko Perlengkapan Golf, Pijat, mandi tradisional gaya Jepang dan Spa.
Tersedia 1 Restauran dengan menu masakan internasional dan masakan
otentik Jepang, Bar dengan Karaoke, Lobby Bar.
Tersedia ruang pertemuan dan banquet yang dapat menampung antara 70 hingga 100 orang.
Tersedia ruang pertemuan dan banquet yang dapat menampung antara 70 hingga 100 orang.
Air Panas Banyuwedang(Banyuwedang Hot Spring)
Air Panas Banyuwedang bersumber dari mata
air panas yang muncul di pantai. Air panas ini berada di bawah air
pada waktu air pasang. Merupakan sumber air panas terbesar, bangunan
beton pengaman dibuatkan dalam bentuk lingkaran yang berfungsi sebagai
tanggul, sehingga pada saat air pasang air panas tersebut tidak
bercampur dengan air laut. Air panas ini banyak mengandung belerang
dengan rata-rata suhu 40 derajat celcius.
Karena kandungan belerangnya yang cukup
tinggi, air panas ini dipercayai secara meluas bahkan sampai ke pulau
Jawa karena air panas ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit terutama
penyakit kulit. Tidak mengherankan apabila banyak orang-orang yang
datang ke tempat ini dengan harapan penyakitnya dapat sembuh. Pantai
dimana terdapat sumber air panas ini ditumbuhi tanaman bakau yang
mencegah abrasi pantai. Dapat dikatakan pantai Bayuwedang ini bebas dari
abrasi.
Adanya teluk dan beberapa pasir putih di sekitarnya menambah asset pariwisata di sekitar Banyuwedang ini. Air Panas Banyuwedang terletak di Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak 60 km dari kota Singaraja, dipinggir batas kawasan Taman Nasional Bali Barat. Di sebelah selatan jalan raya ke Air Panas Banyuwedang termasuk kawasan Taman Nasional, sedangkan di sebelah utaranya adalah kawasan Batu Ampar yang terdiri dari tanah berkapur. Kawasan Batu Ampar ini oleh daerah tingkat II Buleleng telah direncanakan sebagai kawasan wisata baru, mengingat adanya potensi daya tarik yang besar, diantaranya adalah adanya Taman Laut di sekitar Pulau Menjangan.
Adanya teluk dan beberapa pasir putih di sekitarnya menambah asset pariwisata di sekitar Banyuwedang ini. Air Panas Banyuwedang terletak di Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak 60 km dari kota Singaraja, dipinggir batas kawasan Taman Nasional Bali Barat. Di sebelah selatan jalan raya ke Air Panas Banyuwedang termasuk kawasan Taman Nasional, sedangkan di sebelah utaranya adalah kawasan Batu Ampar yang terdiri dari tanah berkapur. Kawasan Batu Ampar ini oleh daerah tingkat II Buleleng telah direncanakan sebagai kawasan wisata baru, mengingat adanya potensi daya tarik yang besar, diantaranya adalah adanya Taman Laut di sekitar Pulau Menjangan.
Jalan menuju air panas Banyuwedang dari
jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk telah dikeraskan, demikian pula
telah dibangun fasilitas parkir. Di sumber air panas yang ditanggul
dibangun sebuah bangunan dengan beberapa kamar mandi tertutup. Di areal
Air Panas Banyuwedang terdapat juga beberapa fasilitas WC yang
dibangun oleh Taman Nasional Bali Barat, dan beberapa tempat berteduh.
Jumlah kunjungan wisatawan Nusantara tinggi jika dibandingkan dengan
Mancanegara. Pengunjung yang datang kebanyakan dengan tujuan untuk
berobat. Pengunjung yang dari pulau Jawa kebanyakan berasal dari Daerah
Banyuwangi.
Sesungguhnya sumber air panas Banyuwedang
terletak ditengah-tengah hutan bakau di pinggir pantai. Daerah
sekitarnya relatif gersang karena tanahnya terdiri atas tanah kapur dan
tidak terdapatnya sungai yang dapat menjadikan sumber air untuk
penghijauan sekitarnya. Oleh karenanya tanaman yang banyak tumbuh adalah
tanaman yang tidak banyak membutuhkan air, seperti yang dikenal di
Bali sebagai pohon “bekeul” atau “bangyang”. Adanya air panas yang
mengandung belerang yang terletak di pinggir pantai ditunjang dengan
daerah yang jarang penduduknya sehingga dapat diciptakan suasana tenang,
menyebabkan Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali akan
mengembangkan daerah ini sebagai Kawasan Pariwisata Untuk Kesehatan,
atau yang umum disebut “Health Tourism”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar