Rabu, 21 Agustus 2013

buleleng tempo dulu

Kamis, 22-08-2013   RSS Feed

Buleleng, Kota Tua yang Mengagungkan

Kanal: Wisata

Banyak orang yang ketika membicarakan Bali, hanya berkutat pada Sanur, Kuta, Legian, atau Nusa Dua yang semuanya berada di Bali Selatan. Namun jika anda menginginkan sesuatu yang lain dari Bali, atau pengalaman eksotik yang bagi saya tidak ditemui di kota manapun di seluruh dunia. Datang dan tengoklah Buleleng, Singaraja.

Saya sudah tiga kali berkunjung ke sana, biasanya saya lewat danau Batur sambil melihat pemandangan danaunya yang sudah terkenal tersebut. Atau anda bisa saja lewat hutan Bali bagian barat yang memang masih perawan untuk sebuah pengalaman baru.
Buleleng, ibukota kabupaten yang terletak di bagian utara Bali ini sangatlah eksotik. Kota kecil yang dikelilingi oleh gunung dan disambut laut, Samudra Indonesia, membuat kita merasa nyaman ketika tidak pekerjaan.
Belum lagi dengan pantai Lovina, yang selama ini terkenal dengan atraksi lumba-lumbanya.....ehm membikin liburan semakin mengasyikan.
Namun bagi saya yang paling menyenangkan adalah berkeliling kota. Berkeliling kota, kita akan sama saja dengan wisata budaya, melihat sejarah perkembangan sebuah kota.
Bangunan China, Islam, dan Hindu menjadi satu di Buleleng. Akulturasi bangunan ini sudah berada di Buleleng sejak masa lampau, di mana pada masa itu memrupakan ibukota provinsi Bali dan salah satu kota demarga yang banyak dikunjungi pedagang.
Cobalah berjalan ke pelabuhan lama di sore hari, sepanjang jalan kita akan disambut berbagai arsitektur campuran tersebut. Di sebelah kiri jalan, seingat saya, bangunan berarsitektur China yang masih ditempati dan hidup akan menonjol dengan perpaduan seni Bali. Sangat indah.
Ketika kita berjalan di sebelah kanan jalan menuju pelabuhan tersebut, kita akan temui bangunan yang bernafaskan Islam. Lihatlah menara masjid An Nur yang mengkilap dan diselimuti matahari sore ketika senja menyapa.
Itu masih belum ada apa-apanya, di dermaga kita bisa menikmati bakaran ikan dengan memandang matahari terbenam di seberang samudra. Sebuah pemandangan yang tidak akan pernah aku lupakan. Atau menikmati bakaran jagung sambil melihat cewek Buleleng yang cantik dan selalu tampil seksi, bagi saya.
Kehidupan malamnya juga tidak akan bisa dilupakan. Jika kita tidak berminat pada masakan penyetan yang banyak dijual oleh orang yang berasal dari Jawa. Kita bisa memilih salah satu warung sate Madura yang memang lahir di sana. Jadi jangan heran bila kita bicara dengan salah satu penjualnya kita akan disuguhi tiga bahasa. Bahasa Bali, Madura, dan Jawa.
Salah satu contohnya Pak Said, yang setiap malam jam 10.00 WITA selalu mangkal di perempatan pasar lama. Dari mulut beliau kita akan diceritakan banyak hal mengenai warung mana yang paling enak dan laris di kota Buleleng. Andalan dia pasti penjual nasi kuning yang berada di sebelah timur tempat mangkalnya.
Buka jam 12.00 malam tutup jam 02.00 WITA. Jika membeli kita akan antri seperti membeli sembako atau penerima BLT. Tidak sebanding dengan harganya yang cuma Rp 3.000,- per porsi. Enak dan melupakan kelelahan berdiri.
Tidak cukup saya ceritakan pengalaman saya di Buleleng dalam tiga kali kunjungan. Pasti saya akan ke sana lagi meskipun teman baik sekaligus saudara saya tidak ada di sana. Ki-Bopo alias munyuk panggilan kesayanganku....coba aja cari dia di FS dan hubungi jika berkeinginan ke Buleleng pasti dibantunya.
Buleleng....kota segara gunung bagi orang Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar