Sejarah Agama Hindu.
Artikel ini bukan mengenai
Hindi.
Agama Hindu (disebut pula
Hinduisme) merupakan
agama dominan di
Asia Selatan—terutama di
India dan
Nepal—yang mengandung aneka ragam tradisi. Agama ini meliputi berbagai aliran—di antaranya
Saiwa,
Waisnawa, dan
Sakta—serta suatu pandangan luas akan
hukum dan aturan tentang "moralitas sehari-hari" yang berdasar pada
karma,
darma, dan
norma
kemasyarakatan. Agama Hindu cenderung seperti himpunan berbagai
pandangan filosofis atau intelektual, daripada seperangkat keyakinan
yang baku dan seragam.
Agama Hindu disebut sebagai "agama tertua" di dunia yang masih bertahan hingga kini,
[a] dan
umat Hindu menyebut agamanya sendiri sebagai
Sanātana-dharma (
Dewanagari:
सनातन धर्म),
[b] artinya "
darma abadi" atau "jalan abadi"
[11] yang melampaui asal mula manusia. Agama ini menyediakan kewajiban "kekal" untuk diikuti oleh seluruh umatnya—tanpa memandang
strata,
kasta, atau
sekte—seperti kejujuran, kesucian, dan pengendalian diri.
Para ahli dari
Barat memandang Hinduisme sebagai peleburan atau
sintesis
dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, dengan pangkal yang
beragam dan tanpa tokoh pendiri. Pangkal-pangkalnya meliputi
Brahmanisme (agama Weda Kuno), agama-agama masa
peradaban lembah Sungai Indus,
dan tradisi lokal yang populer. Sintesis tersebut muncul sekitar
500–200 SM, dan tumbuh berdampingan dengan agama Buddha hingga
abad ke-8. Dari
India Utara, "sintesis Hindu" tersebar ke
selatan, hingga
sebagian Asia Tenggara. Hal itu didukung oleh
Sanskritisasi. Sejak
abad ke-19, di bawah dominansi
kolonialisme Barat serta
Indologi (saat istilah "Hinduisme" mulai dipakai secara luas), agama Hindu ditegaskan kembali sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang
koheren dan
independen. Pemahaman populer tentang agama Hindu digiatkan oleh gerakan
"modernisme Hindu", yang menekankan
mistisisme dan persatuan tradisi Hindu. Ideologi
Hindutva dan
politik Hindu muncul pada
abad ke-20 sebagai kekuatan politis dan jati diri
bangsa India.
Praktik keagamaan Hindu meliputi ritus sehari-hari (contohnya
puja [sembahyang] dan pembacaan doa), perayaan suci pada hari-hari tertentu, dan penziarahan. Kaum petapa yang disebut
sadu
(orang suci) memilih untuk melakukan tindakan yang lebih ekstrem
daripada umat Hindu pada umumnya, yaitu melepaskan diri dari kesibukan
duniawi dan melaksanakan
tapa brata selama sisa hidupnya demi mencapai
moksa.
Susastra Hindu diklasifikasikan ke dalam dua kelompok:
Sruti (apa yang "terdengar") dan
Smerti (apa yang "diingat"). Susastra tersebut memuat
teologi,
filsafat,
mitologi,
yadnya (
kurban), prosesi ritual, dan bahkan kaidah
arsitektur Hindu. Kitab-kitab utama di antaranya adalah
Weda,
Upanishad (keduanya tergolong Sruti),
Mahabharata,
Ramayana,
Bhagawadgita,
Purana,
Manusmerti, dan
Agama (semuanya tergolong Smerti).
Dengan penganut sekitar 1 miliar jiwa,
[15] agama Hindu merupakan agama terbesar ketiga di dunia, setelah
Kristen dan
Islam.
Etimologi
Dalam teks ber
bahasa Arab,
al-Hind adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suku bangsa di suatu daerah yang kini disebut
India, sedangkan 'Hindu' atau 'Hindoo' digunakan sejak akhir
abad ke-18 dan seterusnya oleh
orang Inggris untuk menyebut penduduk '
Hindustan', yaitu bangsa di sebelah barat daya India. Akhirnya, 'Hindu' menjadi istilah padanan bagi 'orang India' yang bukan
Muslim,
Sikh,
Jaina, atau
Kristen,
sehingga mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan
tradisional yang berbeda-beda. Akhiran '-isme' ditambahkan pada kata
Hindu sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan agama
kasta brahmana
yang berlainan dengan agama lainnya, dan kemudian istilah tersebut
diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa
untuk menentang
kolonialisme, meski istilah 'Hindu' pernah dicantumkan dalam babad berbahasa Sanskerta dan
Bengali sebagai antonim bagi 'Yawana' atau Muslim, sekitar awal
abad ke-16.
Kata
Hindu (melalui
bahasa Persia) berasal dari kata
Sindhu dalam
bahasa Sanskerta, yaitu nama sebuah
sungai di sebelah barat daya
subbenua India, yang dalam
bahasa Inggris disebut
Indus.
[c] Menurut
Gavin Flood,
pada mulanya istilah 'hindu' muncul sebagai istilah geografis bangsa
Persia untuk menyebut suku bangsa yang tinggal di seberang sungai Sindu. Maka dari itu, awalnya istilah 'Hindu' merupakan istilah geografis dan tidak mengacu pada suatu
agama.
Kata
Hindu diserap oleh bahasa-bahasa Europa dari istilah
Arab al-Hind, dan mengacu kepada negeri bagi bangsa yang mendiami daerah sekitar sungai Sindu. Istilah Arab tersebut berasal istilah Persia
Hindū, yang mengacu kepada seluruh suku di India. Pada
abad ke-13,
Hindustan muncul sebagai nama alternatif
India yang acap disebutkan, yang memiliki arti "Negeri para
Hindu".
Istilah
agama Hindu kemudian sering digunakan dalam beberapa teks ber
bahasa Sanskerta seperti
Rajatarangini dari
Kashmir (Hinduka,
kr. 1450) dan beberapa teks mazhab
Gaudiya Waisnawa dari
abad ke-16 hingga
ke-18 yang ber
bahasa Bengali, seperti
Caitanyacaritamerta dan
Caitanyabhagawata. Istilah itu digunakan untuk membedakan Hindu dengan
Yawana atau
Mleccha. Sejak abad ke-18 dan seterusnya, istilah Hindu digunakan oleh para kolonis dan pedagang dari
Eropa untuk menyebut para penganut agama tradisional India secara umum. Istilah
Hinduism diserap ke dalam
bahasa Inggris pada
abad ke-19 untuk menyebut tradisi keagamaan, filasat, dan kebudayaan asli India.
Definisi
Studi tentang
India beserta kebudayaan dan agamanya—demikian pula definisi "Hinduisme"—telah dibentuk oleh minat
kolonialisme, serta gagasan
orang Barat tentang agama tersebut. Sejak 1990-an, pengaruh-pengaruh beserta dampaknya telah menjadi topik perdebatan di kalangan ahli Hindu, dan turut dicampuri oleh kritik-kritik terhadap India menurut pandangan Barat.
Karena istilah tersebut melingkupi berbagai tradisi dan gagasan yang
luas, maka sulit untuk memperoleh definisi yang komprehensif. Tanpa keseragaman, Hinduisme didefinisikan sebagai agama, tradisi keagamaan, dan seperangkat kepercayaan religius.
Pengaruh kolonial
Gagasan untuk sebuah sebutan umum bagi beberapa aliran kepercayaan dan tradisi di India sudah mendapat perhatian sejak
abad ke-12. Gagasan "Hinduisme" sebagai "tradisi keagamaan dunia yang tunggal" dipopulerkan pada
abad ke-19 oleh
Indolog Eropa yang mengacu kepada "kasta-kasta brahmana" sebagai informasi mereka tentang agama-agama di India.
Hal ini mengacu pada suatu kecenderungan untuk menegaskan sastra dan
keyakinan terhadap Weda sebagai "esensi" bagi praktik keagamaan Hindu
pada umumnya, serta bagi hubungan 'doktrin Hindu' masa kini dengan
berbagai perguruan
Wedanta (khususnya
Adwaita Wedanta).
Kolonialisme telah menjadi faktor signifikan dalam pengaruh kasta
brahmana
dan "brahmanisasi" dalam masyarakat Hindu. Adat kaum brahmana juga
memengaruhi pengertian Hinduisme di mata orang Eropa. Kaum brahmana
melestarikan kitab-kitab Hindu yang kemudian diteliti oleh orang-orang
Eropa. Kewenangan kitab-kitab tersebut telah menjadi sasaran penelitian
orang Eropa. Penetapan basis-basis tekstual agama Hindu oleh kaum
orientalis Eropa didasari oleh kecenderungan untuk mengacu kepada
otoritas tertulis daripada otoritas lisan. Kaum brahmana dan ilmuwan
Eropa memiliki persepsi yang sama tentang "suatu deklinasi umum dari
sebuah agama yang mulanya murni".
Pendapat orang Hindu
Bagi
orang Hindu, Hinduisme adalah jalan hidup tradisional. Banyak penganutnya yang menyebut Hinduisme sebagai
Sanātana-dharma, artinya "
darma yang abadi" atau "jalan yang abadi".
[11]
Istilah ini mengacu kepada kewajiban "abadi" yang harus dijalankan oleh
seluruh umat Hindu—tanpa memandang derajat, kasta, atau
sekte/aliran—seperti kejujuran, tidak menyakiti makhluk hidup, menjaga
kesucian, berniat baik, pemaaf, bersabar, mengendalikan nafsu,
mengendalikan diri sendiri, murah hati, dan bertafakur. Ini berbeda
dengan
swadarma, artinya "darma seseorang", yaitu kewajiban yang harus dijalankan sesuai aliran yang diikuti dan tingkatan kehidupan.
[31]
Menurut Kim Knott, perihal darma ini mengacu pada gagasan bahwa
sumbernya melampaui sejarah umat manusia, dan kebenarannya disampaikan
oleh Tuhan (
Sruti) serta diwariskan dari zaman ke zaman, hingga masa kini, dalam suatu kumpulan kitab tertua di dunia, yaitu
Weda.
Menurut
Encyclopædia Britannica:
Pada masa kini, istilah [
Sanatana-dharma]
itu pun digunakan oleh para pemuka, reformis, dan nasionalis Hindu untuk
menyebut Hinduisme sebagai suatu agama dunia yang bersatu. Maka dari
itu,
Sanatana-dharma menjadi sinonim bagi kebenaran dan ajaran Hindu yang "abadi", yang kemudian dipahami bahwa tidak hanya
transenden bagi sejarah dan tak berubah-ubah, namun juga tak terbagi-bagi dan pada pokoknya bukanlah
sektarian.
[d][31]
Sebagai tanggapan atas
kolonialisme dan
orientalisme Barat, para pemuka dan ahli Hindu menginterpretasikan agamanya dalam suatu upaya yang disebut
"modernisme Hindu" oleh orang Barat. Tokoh terkemuka dalam upaya tersebut adalah
Swami Vivekananda,
Sarvepalli Radhakrishnan, dan
Mahatma Gandhi.
Menurut Gavin Flood, Vivekanda (1863–1902) adalah tokoh penting dalam
pengembangan pemahaman diri umat Hindu masa kini dan telah merumuskan
pandangan terhadap Hinduisme bagi orang Barat. Intisari dalam filsafatnya adalah gagasan bahwa "
percikan dari Tuhan"
berada dalam setiap makhluk hidup,
sehingga seluruh umat manusia dapat mencapai persatuan dengan "sifat
ilahi bawaan" tersebut, dan dengan memandang bahwa sifat ilahi ini juga
terkandung pada setiap orang maka berkembanglah kasih sayang dan harmoni
sosial.
Menurut Flood, pandangan Vivekananda terhadap Hinduisme adalah yang
paling umum diterima oleh kebanyakan umat Hindu golongan menengah
berbahasa Inggris (
English-speaking middle-class Hindus) pada masa kini.
Sarvepalli Radhakrishnan adalah salah satu cendekiawan terpelajar dari India yang bergelut dengan
filsafat Barat dan
India. Ia mencari keselarasan antara
rasionalisme barat dengan Hinduisme, dan memperkenalkan Hinduisme sebagai
pengalaman religius yang pada hakikatnya rasional dan humanistis.
[e] Wawasan Radhakrishnan disebut sangat relevan dan penting dalam membentuk jati diri Hindu kontemporer.
Pendapat orang Barat
Toleransi
agama Hindu terhadap aneka ragam aliran kepercayaan dan tradisi yang
berbeda-beda membuatnya sulit untuk didefinisikan sebagai suatu agama
menurut pemahaman tradisional
orang Barat.
Dalam sejumlah kajian didapati bahwa agama Hindu dapat dipandang
sebagai suatu kategori dengan "batas-batas yang kabur", daripada suatu
lembaga yang tegar dan terdefinisikan dengan baik. Beberapa aktivitas
keagamaan Hindu dapat dipandang sebagai hal yang lazim dalam agama
tersebut, sementara yang tak lazim pun masih dapat dimasukkan ke dalam
kategori agama Hindu. Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut,
Ferro-Luzzi menulis suatu 'pendekatan Teori Prototipe' untuk
mendefinisikan Hinduisme.
Menurut Flood,
globalisasi kebudayaan Hindu diprakarsai oleh
Swami Vivekananda dengan mendirikan
Misi Ramakrishna,
dan diikuti oleh para pemuka Hindu lainnya, yang membawa ajaran yang
menjadi kekuatan kultural penting dalam masyarakat Barat, dan sebagai
akibatnya menjadi kekuatan kultural penting di India, tempat ajaran itu
bermula.
Hinduisme Global tersebut menarik minat di seluruh dunia, melampaui
batas-batas nasional, dan telah menjadikannya suatu agama dunia yang
berdampingan dengan
Kekristenan,
Islam, dan
Buddhisme, bagi komunitas Hindu seluruh dunia maupun orang-orang Barat yang tertarik dengan kebudayaan dan kepercayaan non-Barat.
Agama ini menekankan nilai-nilai spiritual universal seperti keadilan
sosial, kedamaian, serta "transformasi spiritual umat manusia." Sebagian perkembangannya disebabkan oleh "re-enkulturasi" atau
efek Pizza,
yaitu suatu kondisi ketika unsur-unsur kebudayaan Hindu diperkenalkan
ke Dunia Barat, lalu mendapatkan popularitas di sana, dan sebagai
akibatnya juga mendapatkan popularitas yang lebih besar di India.
Karakteristik
Keberadaan agama Hindu sebagai
agama tersendiri yang berbeda dengan
agama Buddha dan
Jainisme diperkuat oleh penegasan para penganutnya bahwa agama mereka memang demikian berbeda.
[45] Berbeda dengan dua agama tersebut, Hinduisme bersifat
teistik.
Sebagian besar sekte dan aliran Hinduisme meyakini suatu pengatur alam
semesta—dasar bagi segala fenomena di dunia yang memanifestasikan diri
dalam berbagai wujud—yang disebut dengan berbagai nama, seperti
Iswara,
Dewa,
Batara,
Hyang, dan lain-lain. Sebagian aliran meyakini bahwa berbagai kemajemukan di dunia merupakan bagian dari
Brahman.
Dalam agama Hindu, seorang umat boleh berkontemplasi tentang misteri
Brahman (dalam konteks tertentu, Brahman dapat didefinisikan sebagai
Tuhan personal atau pun impersonal) dan mengungkapkannya melalui
mitos
yang jumlahnya tidak habis-habisnya, serta melalui penyelidikan
filosofis. Mereka mencari kemerdekaan atas penderitaan melalui
praktik-praktik
brata atau
meditasi yang mendalam, atau dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih (
bhakti) dan percaya (
sradha).
Akar Hinduisme
Sejak minat akan
Indologi dan
studi Hindu bertumbuh, sejarah dan pangkal agama Hindu telah menjadi perdebatan para cendekiawan di
Dunia Barat.
Sebelumnya, tidak ada istilah 'Hinduisme' atau 'agama Hindu', tetapi
keberadaan tradisi Hindu seperti sekarang telah berpangkal sejak
purbakala.
Selain itu, para ahli sulit mendefinisikan Hinduisme karena ketiadaan
seorang tokoh pendiri agama tersebut. Para cendekiawan memandang
Hinduisme sebagai gabungan dari berbagai kebudayaan atau tradisi yang
ada di
India. Salah satu akarnya adalah
Brahmanisme atau
agama Weda Kuno dari
India pada Zaman Besi, yang merupakan hasil peleburan antara bangsa
Indo-Arya dengan
kebudayaan dan peradaban Harrapa. Selain itu, tradisi yang mendukung perkembangan agama Hindu meliputi
Sramana atau "tradisi penolakan" dari
India Utara, serta kebudayaan
mesolitik dan
neolitik di India, seperti agama-agama
peradaban lembah sungai Indus, tradisi
bangsa Dravida, serta tradisi dan agama lokal dari suku bangsa di India.
Setelah
periode Weda (antara 500–200 SM dan
kr. 300 M, pada permulaan periode "Wiracarita dan Purana" atau "periode Praklasik"), "sintesis Hindu" mulai timbul (masa ketika dimasukkannya pengaruh
Sramana dan
Buddhisme), diiringi dengan kemunculan tradisi
bhakti ke dalam balutan Brahmanisme melalui kitab-kitab
Smerti. Sintesis ini muncul di bawah tekanan perkembangan Buddhisme dan
Jainisme. Selama pemerintahan
Dinasti Gupta, kitab-kitab
Purana disusun, digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan umum di tengah-tengah
akulturasi yang dijalani masyarakat tribal dan buta huruf. Hasilnya adalah kemunculan Hinduisme-Puranis (
Puranic-Hinduism) yang memiliki perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan Brahmanisme sebelumnya (yang berpegang pada
Dharmasastra dan Smerti). Selama beberapa abad, Hinduisme dan Buddhisme tumbuh berdampingan, sampai akhirnya memperoleh keunggulan pada
abad ke-8 M.
[60]
Dari
India Utara, "sintesis Hindu" beserta konsep pembagian masyarakat menyebar ke
India Selatan dan
sebagian Asia Tenggara. Hal tersebut didukung oleh sejumlah kegiatan: pengadaan pemukiman bagi kaum
brahmana di kawasan yang diizinkan oleh penguasa lokal; dimasukkannya atau di
asimilasikannya dewa-dewi non-Weda (tidak disebut dalam
Weda) yang populer;
[64] dan proses
Sanskritisasi,
yaitu kondisi ketika "orang-orang dari berbagai strata masyarakat India
cenderung menyesuaikan kehidupan religius dan sosial mereka dengan
norma-norma Brahmanis".
[64] Proses asimilasi tersebut menjelaskan bahwa keanekaragaman budaya lokal di India diselimuti oleh selubung persamaan konseptual.
Keanekaragaman

Tari kebaktian yang dilakukan wanita Hindu di Moskwa, Rusia.

Upacara barthaband pooja di Bagmati, Nepal.
|

Anak-anak Hindu dengan pakaian tradisional dari Afghanistan.
|
Agama Hindu dapat dideskripsikan sebagai sebuah wadah tradisi yang
memiliki "sifat kompleks, bertumbuh, berhierarki, dan kadangkala
inkonsisten secara internal." Agama Hindu tidak mengenal "satu sistem kepercayaan yang disusun demi menyeragamkan keyakinan atau iman", namun menjadi istilah awam yang meliputi kemajemukan tradisi keagamaan di India. Menurut Mahkamah Agung India:
Tidak seperti agama lainnya di dunia, agama Hindu
tidak mengklaim satu nabi saja, tidak memuja satu dewa saja, tidak
menganut satu konsep filosofis saja, tidak mengikuti atau mengadakan
satu ritus keagamaan saja; faktanya, ciri-ciri [agama Hindu] itu tidak
seperti agama atau kepercayaan lain pada umumnya. Tak lain dan tak
bukan, agama [Hindu] itu merupakan suatu jalan hidup.
[f]
Salah satu masalah dalam merumuskan satu definisi tentang istilah
"agama Hindu" adalah adanya fakta bahwa agama Hindu tidak didirikan oleh
seorang tokoh. Agama ini merupakan
sintesis dari berbagai tradisi, atau himpunan tradisi keagamaan yang berbeda tetapi memiliki persamaan.
Konsep ketuhanan dalam tubuh agama Hindu pun tidak seragam. Beberapa aliran bersifat
monoteisme—mengagungkan
Wisnu,
Kresna, atau
Siwa—sementara aliran lainnya bersifat
monisme, yang memandang bahwa para dewa atau sembahan apa pun merupakan manifestasi beragam dari Yang Maha Esa. Beberapa aliran Hindu bersifat
panenteisme—sebagaimana disebutkan dalam kitab
Bhagawadgita—yang meyakini bahwa Tuhan meresap ke seluruh
alam semesta, namun alam semesta bukanlah Tuhan.
[75] Beberapa
filsafat Hindu membuat postulat
ontologi teistis (dalil ketuhanan) tentang penciptaan dan peleburan alam semesta, meskipun beberapa umat Hindu merupakan
ateis yang memandang Hinduisme tak lebih dari sebuah filsafat, bukan agama.
Di samping itu, agama Hindu tidak mengenal satu sistem saja untuk mencari "keselamatan" (
salvation), namun mengandung sejumlah aliran dan berbagai bentuk tradisi keagamaan.
Beberapa tradisi Hindu mengandalkan ritus tertentu sebagai hal penting
demi keselamatan, namun berbagai pandangan mengenai hal tersebut juga
hadir secara berdampingan. Agama Hindu juga dicirikan dengan adanya
kepercayaan akan
reinkarnasi (
samsara, atau siklus lahir-mati) yang ditentukan oleh hukum
karma,
dan gagasan tentang "keselamatan" adalah kondisi saat individu terbebas
dari siklus lahir-mati yang terus berputar. Berdasarkan hal-hal
tersebut di atas, agama Hindu dipandang sebagai agama yang paling
kompleks dari seluruh agama yang masih bertahan hingga saat ini.
Persamaan
Di samping berbagai perbedaan yang teramati, ada pula rasa persamaan dalam Hinduisme. Menurut tokoh spiritual Hindu
Swami Vivekananda, ada kesatuan fundamental dalam tubuh Hinduisme, yang mendasari berbagai perbedaan dalam bentuk-bentuk pelaksanaannya. Pada umumnya, umat Hindu mengenal berbagai nama dan gelar seperti
Wisnu,
Siwa,
Sakti,
Hyang,
Dewata, dan
Batara.
Beberapa aliran memandang nama dan gelar tersebut sebagai aneka
manifestasi dari Yang Maha Esa atau Yang Mahakuasa, sehingga agama Hindu
dapat dikatakan bersifat
monisme. Agama Hindu juga dicirikan dengan adanya kepercayaan akan
makhluk ilahi/
makhluk surgawi,
yang dipandang tidak setara dengan Yang Mahakuasa, sedangkan beberapa
aliran juga memandangnya sebagai manifestasi dari Yang Mahakuasa. Karakteristik lainnya—yang kerap dijumpai dalam tubuh Hinduisme—adalah iman tentang
reinkarnasi dan
karma, serta keyakinan akan kewajiban yang harus dipenuhi secara mutlak (
darma).
Selain itu, banyak aliran Hinduisme mentakzimkan suatu kumpulan
kitab suci yang disebut
Weda, meskipun ada beberapa aliran yang mengabaikannya. Sekte Hindu seperti
Linggayata bahkan tidak mengikuti
Weda, namun masih memiliki kepercayaan akan
Siwa.
[80] Sebaliknya, sekte
Ayyavazhi memiliki kitab suci tersendiri yang disebut
Akilattirattu Ammanai,
[81] namun masih mengimani Tuhan yang sama dengan Hinduisme—contohnya
Narayana dan
Laksmi—serta memiliki sejumlah mitos yang mirip dengan
mitologi Hindu pada umumnya.
Dalam perkembangannya, tradisi Hindu yang cenderung mengagungkan Wisnu—atau Narayana dan Kresna—disebut
Waisnawa, sementara yang memuja Siwa disebut
Saiwa
(Saiwisme). Dilihat dari luar, aliran Saiwa dan Waisnawa memiliki
konsep tersendiri tentang Tuhan yang diagungkan. Menurut Halbfass,
meskipun aliran Saiwa dan Waisnawa dapat dipandang sebagai aliran
keagamaan yang mandiri, ada kadar interaksi dan saling acu antara para
teoretikus dan pujangga dari masing-masing tradisi yang mengindikasikan
adanya rasa jati diri yang lebih luas, rasa koherensi dalam konteks yang
sama, serta inklusi dalam kerangka dan garis besar [kepercayaan] secara
umum.
Menurut Nicholson, pada masa antara
abad ke-12 dan
ke-16, para cendekiawan tertentu mulai memandang "
benang merah" terhadap kekayaan ajaran filsafat yang berasal dari
Upanishad,
wiracarita,
Purana, dan beberapa mazhab yang dikenal sebagai "enam sistem" (
saddarsana) dari
filsafat Hindu yang umum." Tendensi dari kekaburan distingsi filosofis juga digarisbawahi oleh Burley. Hacker menyebut perihal tersebut sebagai "inklusivisme",
[83] dan Michaels berpendapat tentang "sifat identifikasi diri". Menurut Lorenzen, rasa identitas ke-Hindu-an bermula dari masa interaksi antara kaum
Muslim dan Hindu, dan dari sebuah proses penentuan jati diri untuk membedakan kaum Hindu dengan kaum Muslim, yang sudah dimulai sebelum
1800-an. Menurut Michaels:
Sebagai pencegahan terhadap supremasi
Islam,
dan sebagai bagian dari proses regionalisasi yang berkelanjutan, dua
inovasi keagamaan berkembang dalam tubuh agama Hindu: pembentukan
sekte-sekte serta historisasi yang mendahului nasionalisme pada masa
berikutnya … Para orang suci, dan kadangkala pemuka sekte yang militan,
seperti pujangga
Maratha [bernama]
Tukaram (1609–1649) dan
Ramdas (1608–1681), menyuarakan gagasan-gagasan yang mengagungkan kejayaan agama Hindu pada masa lampau. Para
brahmana juga menyusun tulisan-tulisan bersejarah yang kian bertambah, terutama
eulogi dan riwayat tempat-tempat suci (
mahatmya),
atau mengobarkan semangat reflektif untuk menghimpun dan menggubah
suatu koleksi kutipan yang ekstensif tentang berbagai subjek.
[g]
Inklusivisme ini dikembangkan lebih jauh lagi pada
abad ke-19 dan
ke-20 oleh
gerakan reformasi Hindu dan
Neo-Vedanta, serta telah menjadi karakteristik agama Hindu modern.
Penggolongan
Agama Hindu sebagaimana biasanya dapat digolongkan ke dalam beberapa
mazhab atau aliran besar. Dalam suatu kelompok mazhab di masa lalu—yang
digolongkan sebagai "enam
darsana"—hanya dua mazhab yang popularitasnya masih bertahan:
Wedanta dan
Yoga. Golongan-golongan utama Hinduisme pada masa kini disesuaikan dengan aliran-aliran besar yang ada:
Waisnawa (Waisnawisme),
Saiwa (Saiwisme),
Sakta (Saktisme), dan
Smarta (Smartisme).
[88]
Enam tipe umum
Menurut J. McDaniel, ada enam tipe umum dalam tubuh agama Hindu, yang
disusun dengan maksud menampung berbagai pandangan terhadap suatu
subjek yang kompleks. Adapun enam tipe tersebut sebagai berikut:
- Agama Hindu rakyat, yaitu agama Hindu yang berdasarkan pada tradisi masyarakat setempat serta pemujaan dewa-dewi lokal, seperti Hindu Tamil, Hindu Newa, Hindu Bali, Hindu Manipuri, Hindu Kaharingan, dan lain-lain. Berpangkal dari masa prasejarah atau setidaknya mendahului penulisan Weda.
- Srauta atau Agama Hindu Weda, dilaksanakan oleh kaum brahmana-tradisional yang disebut srautin.
- Agama Hindu Wedanta, yaitu agama Hindu yang mengacu pada filsafat Wedanta, meliputi Adwaita Wedanta (Smarta), dan menekankan pendekatan filosofis pada kitab-kitab Upanishad.
- Agama Hindu Yoga, yaitu sekte yang menitikberatkan pelaksanaan yoga menurut Yogasutra Patanjali.
- Agama Hindu Dharma atau agama "moralitas sehari-hari", yaitu Hinduisme yang berdasarkan pada realisasi karma dan pelaksanaan norma kemasyarakatan seperti wiwaha (adat pernikahan Hindu).
- Bhakti, yaitu agama Hindu yang menekankan pelaksanaan kebaktian bagi entitas tertentu, seperti Kresna, Siwa, Ganesa.
Religi dan religiositas Hindu
Menurut Axel Michaels, ada tiga bentuk
religi (agama) Hindu dan empat macam
religiositas (pengabdian) umat Hindu.
Pembagian agama Hindu menjadi tiga bentuk bersuaian dengan metode
pembagian dari India yang mengelompokkannya sebagai berikut: praktik
ritual menurut
Weda (
vaidika), agama rakyat dan lokal (
gramya), dan sekte keagamaan (
agama atau
tantra). Menurut Michaels, tiga bentuk agama Hindu yakni:
- Hinduisme Brahmanis-Sanskritis (Brahmanic-Sanskritic Hinduism): suatu agama politeistis, ritualistis, dan kependetaan yang berpusat pada suatu keluarga besar serta upacara pengorbanan, dan merujuk kepada kitab-kitab Weda sebagai keabsahannya.
Agama ini mendapat sorotan utama dalam banyak risalah tentang agama
Hindu karena memenuhi banyak kriteria untuk disebut sebagai agama, serta karena agama ini merupakan yang dominan di berbagai wilayah India, sebab masyarakat non-brahmana pun mencoba untuk mengasimilasinya.
- Agama rakyat dan agama suku: suatu agama lokal yang politeistis, kadangkala animistis, dengan tradisi lisan yang luas. Kadangkala bertentangan dengan Hinduisme Brahmanis-Sanskritis.
- Agama bentukan: tradisi dengan komunitas monastis yang dibentuk untuk mencari keselamatan (salvation), biasanya menjauhkan diri dari belenggu duniawi, dan seringkali anti-Brahmanis. Agama ini dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian:
- Agama sektarian: aliran keagamaan yang menggarisbawahi suatu konsep
filosofis dari Hinduisme dan menekankan praktik religius menurut konsep
tersebut, contohnya Waisnawa dan Saiwa.
- Agama-bentukan sinkretis: agama tersendiri yang terbentuk dari sinkretisme antara Hinduisme dengan agama lain, contohnya Hindu-Islam (Sikhisme), Hindu-Buddha (Buddhisme Newara), atau Hindu-Kristen (Neohinduisme).
- Agama proselitisis (proselytizing religions), atau "Guru-isme": kelompok keagamaan yang berawal dari seorang guru dan biasanya menekankan isu universalisme, contohnya Maharishi Mahesh Yogi dengan gerakan Meditasi Transendental, Sathya Sai Baba dengan Federasi Satya Sai, Bhaktivedanta Swami Prabhupada dengan gerakan ISKCON, Maharaj Ji dengan Divine Light Mission, dan Osho.
Menurut Michaels, empat macam
religiositas Hindu yakni:
- Ritualisme: terutama mengacu pada ritualisme Weda-Brahmanistis (Vedic-Brahmanistic ritualism) yang domestik dan butuh kurban, namun dapat juga meliputi beberapa bentuk Tantrisme. Ini merupakan karma-marga klasik.
- Spiritualisme: kesalehan intelektual, bertujuan untuk mencari kebebasan (moksa) bagi individu, biasanya dengan bimbingan seorang guru. Ini merupakan karakteristik Adwaita Wedanta, Saiwa Kashmir, Saiwa Siddhanta, Neo-Wedanta, Guruisme esoterik masa kini, dan beberapa macam Tantrisme. Ini merupakan jnana-marga klasik.
- Devosionalisme: pemujaan kepada Tuhan, seperti yang ditekankan dalam tradisi bhakti dan Kresnaisme. Ini merupakan bhakti-marga klasik.
- Heroisme: bentuk religiositas politeistis yang berpangkal dari tradisi militeristis, seperti Ramaisme dan sebagian dari Hinduisme politis. Ini juga disebut wirya-marga.
Toleransi
Agama Hindu memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling
toleran karena tiadanya
skisma meskipun ada kemajemukan tradisi yang bernaung di bawah simbol-simbol agama Hindu.
[95]
Dalam tubuh agama Hindu, perbedaan pada setiap tradisi—bahkan pada
agama lain—tidak untuk diperkarakan, karena ada keyakinan bahwa setiap
orang memuja Tuhan yang sama dengan nama yang berbeda, entah disadari
atau tidak oleh umat bersangkutan.
[97] Dalam kitab
Regweda terdapat suatu bait yang sering dikutip oleh umat Hindu untuk menegaskan hal tersebut, sebagai berikut:
एकम् सत् विप्रा: बहुधा वदन्ति (Ekam Sat Viprāh Bahudhā Vadanti)
Arti: "Hanya ada satu kebenaran, tetapi para cendekiawan menyebut-Nya dengan banyak nama." (I:CLXIV:46)
Agama Hindu memandang seluruh dunia sebagai suatu keluarga besar yang
mengagungkan satu kebenaran yang sama, sehingga agama tersebut
menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak mempersoalkan perbedaan
agama. Maka dari itu, agama Hindu tidak mengakui konsep
murtad,
bidah, dan
penghujatan.
[95][100] Agama Hindu bersifat mendukung
pluralisme agama
dan lebih menekankan harmoni dalam kehidupan antar-umat beragama,
dengan tetap mengindahkan bahwa tiap agama memiliki perbedaan mutlak
yang tak patut diperselisihkan. Menurut tokoh spiritual Hindu
Swami Vivekananda,
setiap orang tidak hanya patut menghargai agama lain, namun juga
merangkulnya dengan pikiran yang baik, dan kebenaran itulah yang
merupakan dasar bagi setiap agama.
[102]
Dalam agama Hindu, toleransi beragama tidak hanya ditujukan pada umat
agama lain, namun juga pada umat Hindu sendiri. Hal ini terkait dengan
keberadaan beragam tradisi dalam tubuh Hinduisme. Agama Hindu memberikan
jaminan kebebasan bagi para penganutnya untuk memilih suatu pemahaman
dan melakukan tata cara persembahyangan tertentu.
[104] Sebuah sloka dalam
Bhagawadgita sering dikutip untuk mendukung pernyataan tersebut:
Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah.
Arti: Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya
anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai
Arjuna (
Bhagawadgita,
IV:11)
Dalam
Parlemen Agama-Agama Dunia (1893) di
Chicago,
Vivekananda
juga mengutip suatu ayat yang menyatakan bahwa setiap orang menempuh
jalan yang berbeda-beda dalam memuja Tuhan, sebagaimana berbagai aliran
sungai pada akhirnya menyatu di lautan.
[94]
Mazhab, aliran, dan gerakan
Hinduisme tidak mengandalkan otoritas berdasarkan doktrin sentral seperti
kredo,
rukun iman, atau
syahadat.
Meskipun tradisi Hindu tidak seragam, banyak umat Hindu yang tidak mau
mengakui dirinya sebagai penganut aliran atau sekte Hindu tertentu.
Pada umumnya, aliran dibedakan berdasarkan pada dewa yang dipuja
sebagai manifestasi Yang Mahakuasa, serta pada tradisi mengenai cara
pemujaan dewa tersebut.
Ada empat aliran utama yang sering teramati:
Waisnawa,
Saiwa,
Sakta, dan
Smarta.
[106] Umat
Waisnawa memuja
Wisnu sebagai manifestasi Yang Mahakuasa; umat
Saiwa memuja
Siwa sebagai manifestasi Yang Mahakuasa; umat
Sakta memuja
Sakti (kekuatan) atau
Dewi yang dipersonifikasikan sebagai wanita ilahi; sedangkan
Smarta meyakini kesatuan mendasar dari lima (
Pancadewa) atau enam (
Shanmata) dewa sebagai personifikasi dari Yang Mahakuasa. Aliran lainnya seperti
Ganapatya (pemujaan terhadap
Ganesa) dan
Saura (pemujaan terhadap
Surya) kurang menyebar secara luas.
Sejumlah gerakan keagamaan terkategorikan ke dalam salah satu aliran besar Hinduisme, contohnya
Gerakan Hare Krishna terkategorikan ke dalam golongan
Waisnawa. Ada pula gerakan keagamaan Hindu yang sukar ditentukan untuk dimasukkan ke dalam golongan yang disebutkan di atas, contohnya
Arya Samaj yang diprakarsai Swami
Dayananda Saraswati. Gerakan keagamaan ini berbeda dengan tradisi Hindu pada umumnya, yaitu tidak memuja Tuhan dengan sarana
arca atau lukisan. Gerakan ini berfokus kepada
Weda dan
yadnya (
yajña; ritus keagamaan berdasarkan
Weda).
Di samping empat aliran besar dalam agama Hindu, sekte-sekte keagamaan yang ada meliputi
Ayyavazhi,
Swaminarayana,
Ravidassia,
Linggayata,
dan lain-lain. Beberapa sekte memiliki konsep, mitologi, serta pustaka
suci tersendiri yang berbeda dengan tradisi Hindu pada umumnya.
Sekte-sekte tertentu pun memiliki aliran di dalamnya, misalnya
tradisi Tantra.
[107]
Enam mazhab filsafat
Lukisan
Kapila, dari abad ke-19.
Menurut sistem
astika dan nastika, ada sembilan filsafat India klasik. Enam di antaranya merupakan filsafat Hindu klasik (
astika) yang mengakui otoritas
Weda sebagai kitab suci. Tiga filsafat lainnya merupakan aliran
heterodoks (
nastika) yang tidak mengakui otoritas
Weda, namun menekankan tradisi perguruan yang berbeda. Adapun enam filsafat Hindu tersebut sebagai berikut:
- Samkhya: mazhab filsafat yang—dipercaya secara tradisional—digagas oleh Resi Kapila. Mazhab ini dianggap sebagai salah satu mazhab filsafat tertua di India. Mazhab ini bersifat dualisme. Menurut Samkhya, alam semesta terdiri dari dua realitas: purusa (kesadaran) dan prakerti (materi). Jiwa adalah kondisi saat purusa terikat pada prakriti karena suatu "perekat" yang disebut kehendak, dan akhir dari ikatan itu disebut moksa. Samkhya menolak bahwa sumber segalanya adalah Iswara (Tuhan).
Samkhya tidak mendeskripsikan apa yang terjadi setelah moksa, dan tidak
menyinggung apa pun yang berkaitan dengan Iswara atau Tuhan, karena
filsafat ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan esensial antara purusa individu dengan alam semesta setelah mencapai moksa.
- Yoga: mazhab yang menekankan pada pengendalian diri dan pikiran. Mazhab Yoga menerima psikologi dan metafisika yang diajarkan Samkhya, namun bersifat lebih teistis daripada Samkhya, karena ditambahkannya entitas ketuhanan pada 25 elemen realitas menurut Samkhya. Mazhab ini digagas oleh Resi Patanjali. Yoga menurut Patanjali dikenal sebagai Rajayoga, yaitu suatu sistem untuk mengontrol pikiran. Berbagai tradisi Yoga didapati dalam agama Hindu, Buddha, dan Jaina. Para guru dari India memperkenalkan Yoga ke Dunia Barat, mengikuti keberhasilan Vivekananda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Pada tahun 1980-an, salah satu jenis Yoga menjadi populer sebagai suatu
sistem latihan jasmani di Dunia Barat. Bentuk Yoga semacam itu disebut Hathayoga.
- Nyaya: mazhab logika dalam Hinduisme. Mazhab spekulasi filosofis ini berdasarkan kitab-kitab yang disebut Nyayasutra, ditulis oleh Aksapada Gautama pada abad ke-2 Masehi. Kontribusi signifikan dari mazhab Nyaya adalah metodologi untuk membuktikan keberadaan Tuhan, menurut kitab Weda. Menurut mazhab Nyaya, ada empat sumber untuk memperoleh pengetahuan (pramana):
persepsi, inferensi, perbandingan, dan testimoni. Pengetahuan yang
diperoleh melalui masing-masing sumber tersebut bisa saja sahih atau
tidak. Sebagai dampaknya, para filsuf Nyaya berusaha keras untuk mencari
cara membuktikan kesahihan pengetahuan melalui sejumlah bagan
penjelasan.
- Waisesika: mazhab atomisme dalam Hinduisme yang menyatakan suatu postulat bahwa segala benda di alam semesta dapat dibagi-bagi menjadi sejumlah atom. Mazhab ini mulanya digagas oleh Resi Kanada sekitar abad ke-2 Masehi.
Secara historis, mazhab ini dikaitkan erat dengan Nyaya. Meskipun
sistem Waisesika dan Nyaya berkembang secara mandiri, keduanya bergabung
karena teori-teori metafisis yang memiliki keterkaitan. Akan tetapi,
dalam bentuknya yang klasik, ajaran Waisesika berbeda dengan Nyaya,
karena Nyaya mengakui empat sumber pengetahuan, sementara Waisesika
hanya mengakui persepsi dan inferensi.
- Mimamsa: mazhab yang kajian utamanya adalah sifat-sifat darma berdasarkan hermeneutika pada kitab-kitab Weda.
Sifat-sifat darma tidak dapat diakses untuk penalaran atau pengamatan,
sehingga harus dikaji melalui otoritas wahyu-wahyu yang dikandung dalam Weda, yang diyakini kekal, tanpa pengarang (apauruṣeyatva), dan sempurna.[119] Mazhab Mimamsa mengandung doktrin yang ateistis maupun teistis dan tidak terlalu tertarik pada keberadaan Tuhan, namun pada karakteristik darma. Mimamsa sangat memerhatikan penafsiran tekstual, sehingga memberi rintisan pada kajian filologi dan filsafat bahasa. Gagasannya tentang "tuturan" (śabda) sebagai kesatuan suara dan makna (penanda dan petanda) yang tak dapat dibagi lagi dipengaruhi oleh Bhartṛhari (kr. abad ke-5).[122]
- Adwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Adi Shankara (awal abad ke-8) dan guru besarnya, Gaudapada, yang menjabarkan Ajatiwada. Menurut perguruan ini, Brahman adalah satu-satunya kenyataan, sedangkan dunia yang teramati hanyalah ilusi
belaka. Karena Brahman adalah kenyataan sejati, Ia tidak dapat
dikatakan memiliki atribut. Kekuatan ilusif dari Brahman yang disebut maya (māyā)
membuat dunia ini tampak ada. Ketidaktahuan akan kenyataan tersebut
merupakan penyebab adanya penderitaan di dunia, sehingga kebebasan (dari
penderitaan) hanya bisa diperoleh melalui kesadaran akan Brahman.
Ketika seseorang mencoba memahami Brahman melalui pikirannya,
maka—karena pengaruh maya—Brahman hadir sebagai Tuhan berkepribadian (Iswara), yang berbeda dengan dunia dan juga individu. Pada kenyataannya, tiada perbedaan antara esensi individu yang sejati (jiwatman)
dengan Brahman. Kebebasan dapat diperoleh dengan merasakan bahwa tiada
perbedaan antara keduanya. Maka dari itu, jalan kebebasan ditempuh
dengan pengetahuan (jñāna).[126]
- Wisistadwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Ramanuja (1017–1137). Menurut perguruan ini, jiwatman adalah bagian dari Brahman, sehingga mereka mirip, tetapi tidak sama. Menurut Wisistadwaita, Brahman dinyatakan memiliki atribut (Saguna-brahman), termasuk materi dan jiwa kesadaran individu. Brahman, materi, dan jiwa individu tidaklah sama tetapi merupakan entitas yang tidak terpisahkan. Perguruan ini menegaskan Bhakti atau pengabdian kepada Tuhan—yang dibayangkan sebagai Wisnu—sebagai jalan untuk mencapai kebebasan (moksa). Dalam perguruan ini, maya dipandang sebagai daya cipta dari Tuhan.[126]
- Dwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Madhwacarya (1199–1278). Perguruan ini juga disebut sebagai tatvavādā – "Filsafat Kenyataan". Perguruan ini menyamakan Tuhan dengan Brahman, sehingga tiada berbeda dengan Wisnu atau pun berbagai perwujudan-Nya seperti Kresna, Narasinga, Wenkateswara,
dan lain-lain. Perguruan ini memandang Brahman, jiwa individu, dan
materi sebagai entitas yang berbeda. Perguruan ini menekankan Bhakti sebagai jalan yang benar untuk mencapai kebebasan, dan pengabaian akan Tuhan akan berujung pada neraka
serta ikatan duniawi. Menurut Dwaita, segala tindakan diberdayakan oleh
jiwa yang diberi kekuatan oleh Tuhan, dan hasil tindakan tersebut
dilimpahkan kepada jiwa, namun Tuhan tidak ikut terpengaruh oleh hasil
tindakan tersebut.[126]
Dalam sejarah agama Hindu, keberadaan enam mazhab tersebut di atas mencapai masa gemilang pada masa
Dinasti Gupta.
Dengan bubarnya Waisesika dan Mimamsa, perguruan filsafat tersebut
kehilangan pamornya pada masa-masa berikutnya, sedangkan berbagai
aliran-aliran Wedanta mulai naik pamor sebagai cabang-cabang utama dalam
filsafat keagamaan. Nyaya bertahan sampai
abad ke-17 dan berganti nama menjadi
Nawya-nyaya ("Nyaya Baru"), sedangkan Samkhya lenyap perlahan-lahan, namun ajarannya diserap oleh Yoga dan Wedanta.
Empat aliran utama
Empat aliran utama yang sering didapati adalah
Waisnawa,
Saiwa,
Sakta, dan
Smarta. Dalam masing-masing aliran, ada beberapa perguruan atau aliran lain yang menempuh caranya sendiri.
- Waisnawa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Wisnu—dewa pemelihara menurut konsep Trimurti (Tritunggal)—beserta sepuluh perwujudannya (awatara). Aliran ini menekankan pada kebaktian, dan para pengikutnya turut memuja berbagai dewa, termasuk Rama dan Kresna
yang diyakini sebagai perwujudan Wisnu. Pengikut aliran ini biasanya
non-asketis, monastis (mengikuti cara hidup biarawan), dan menekuni
praktik meditasi serta melantunkan lagu-lagu pemujaan.[127][128][129] Biasanya umat Waisnawa bersifat dualisme. Aliran ini memiliki banyak tokoh suci, kuil, dan kitab.[130] Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Sri Sampradaya (Waisnawa yang memuja Laksmi sebagai pasangan Wisnu), Brahma Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu secara eksklusif), Rudra Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu atau para awatara, seperti Kresna, Rama, Balarama, dan lain-lain), Kumara Sampradaya (Waisnawa yang memuja Caturkumara).
- Saiwa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Siwa. Kadangkala Siwa digambarkan sebagai Bhairawa yang menyeramkan. Umat Saiwa lebih tertarik pada tapa brata
daripada umat Hindu aliran lainnya, dan biasa ditemui berkeliaran di
India dengan wajah yang dilumuri abu dan melakukan ritual penyucian
diri.[127][128][129] Mereka bersembahyang di kuil dan melakukan yoga, berjuang untuk dapat menyatukan diri dengan Siwa.[130] Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Pasupata (Saiwa yang menekankan tapa brata, terutama tersebar di Gujarat, Kashmir, dan Nepal), Saiwa Siddhanta (Saiwa yang mendapat pengaruh Tantra), Kashmira Saiwadarshana (Saiwa yang monistis dan idealistis), Natha Siddha Siddhanta (Saiwa yang monistis), Linggayata (Saiwa yang monoteistis), Saiwa Adwaita (Saiwa yang monistis dan teistis).
- Sakta: aliran Hinduisme yang memuja Sakti atau Dewi. Pengikut Saktisme meyakini Sakti sebagai kekuatan yang mendasari prinsip-prinsip maskulinitas,
yang dipersonifikasikan sebagai pasangan dewa. Sakti diyakini memiliki
berbagai wujud. Beberapa di antaranya tampak ramah, seperti Parwati (pasangan Siwa) atau Laksmi (pasangan Wisnu). Yang lainnya tampak menakutkan, seperti Kali atau Durga. Sakta memiliki kaitan dekat dengan Hinduisme Tantra, yang mengajarkan ritual dan praktik untuk penyucian pikiran dan tubuh.[127][128][129] Umat Sakta menggunakan mantra-mantra, sihir, gambar sakral, yoga, dan upacara untuk memanggil kekuatan kosmis.[130] Aliran ini mengandung dua golongan utama, yaitu: Srikula (pemujaan kepada dewi-dewi yang bergelar Sri) dan Kalikula (pemujaan kepada dewi-dewi perwujudan Kali).
- Smarta: aliran Hindu-monistis yang memuja lebih dari satu dewa—meliputi Siwa, Wisnu, Sakti, Ganesa, dan Surya
di antara dewa dan dewi lainnya—tetapi menganggap bahwa dewa-dewi
tersebut merupakan manifestasi dari zat yang Maha Esa. Dibandingkan tiga
aliran Hinduisme yang disebutkan di atas, Smarta berusia relatif muda. Berbeda dengan Waisnawa atau Saiwa, aliran ini tidak bersifat sektarian secara gamblang, dan berdasarkan pada iman bahwa Brahman adalah asas tertinggi di alam semesta dan meresap ke dalam segala sesuatu yang ada.[127][128][129] Pada umumnya, umat Smarta memuja Yang Mahakuasa dalam enam personifikasi: Ganesa, Siwa, Sakti, Wisnu, Surya, dan Skanda.
Karena umat Smarta menerima keberadaan dewa-dewi Hindu yang utama,
mereka dikenal sebagai umat liberal atau non-sektarian. Mereka mengikuti
praktik-praktik filosofis dan meditasi, serta menekankan persatuan
antara individu dengan Tuhan melalui kesadaran.[130]
Sekte dan aliran lainnya
Tari topeng
Nyetamaru Ajima, salah satu ritus keagamaan Hindu Newa di
Nepal.
- Agama Hindu Newa: agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar suku Newa di Nepal. Agama Hindu ini mengenal beberapa tradisi unik seperti tarian sakral dengan topeng yang disebut Chachaa Pyakhan. Agama Hindu ini juga mengenal sejumlah hari raya, dan ada kalanya bertepatan dengan perayaan Buddhis di sana.
- Agama Hindu Swaminarayana: agama yang dianut oleh sebagian besar orang Hindu Gujarat.[131] Pengikut Hindu Swaminarayana memuja Wisnu atau Kresna
sebagai Tuhan sehingga sering dianggap sebagai salah satu aliran dalam
Waisnawa. Tetapi—tidak seperti aliran Waisnawa pada umumnya—Hindu
Swaminarayana tidak membedakan Wisnu dan Siwa. Aliran ini menggunakan pemahaman sebagaimana aliran Smarta bahwa para dewa adalah manifestasi dari Brahman.[133]
- Ayyavazhi: sistem kepercayaan monistis berdasarkan darma yang berasal dari India Selatan.
Aliran ini dikatakan sebagai agama tersendiri oleh media massa dan
beberapa penganutnya, tetapi banyak penganutnya yang mengaku sebagai umat Hindu, sehingga Ayyavazhi juga dianggap sebagai sekte Hindu.[134][135] Ayyavazhi berpusat pada ajaran dan khotbah Ayya Vaikundar; gagasan dan filosofi mereka berdasarkan kitab Akilattirattu Ammanai dan Arul Nool.
Ayyavazhi memiliki banyak kesamaan dengan Hinduisme dalam hal mitologi
dan praktik, namun memiliki perbedaan dalam konsep baik dan buruk, serta
perbedaan pandangan tentang darma.
- Ekasarana Dharma: aliran Hindu-panenteistis yang dirintis oleh Srimanta Sankardeva pada abad ke-15. Kini, banyak penganutnya yang tinggal di negara bagian Assam.
Aliran ini menolak upacara dan ritus berbasis Weda, menentang
pelaksanaan kurban hewan, dan hanya melakukan pemujaan dengan menyebut
nama Tuhan berulang-ulang. Kitab pegangan bagi aliran ini adalah Sankardewa Bhagawata. Aliran ini terbagi menjadi empat golongan: Brahma-sanghati, Purusha-sanghati, Nika-sanghati, dan Kala-sanghati.
- Ganapatya: sekte Hinduisme yang berfokus pada pemujaan Ganesa sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Ganesa dipuja sebagai bagian dari Saiwa sejak sekitar abad ke-5. Sekte Ganapatya mulai muncul sekitar abad ke-6 dan ke-9. Kemudian, sekte ini dipopulerkan oleh Sri Morya Gosavi. Sekte Ganapatya mulai masyhur antara abad ke-17 dan ke-19 di Maharashtra.
- Kapadi Sampradaya: aliran dan tradisi Hinduisme yang dianut sebagian masyarakat kesatria di Gujarat, terutama di Kutch. Pengikut tradisi ini memuja Rama sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Kepercayaan ini terbagi menjadi empat golongan: Ramsnehi, Ashapuri, Sravani, dan Makadbantha.
- Kaumaram: sekte Hinduisme yang berfokus pada pemujaan Murugan atau Skanda di kawasan India Selatan, terutama yang didominasi oleh suku Tamil. Tradisi tersebut juga dapat ditemui di luar India, khususnya di kawasan pemukiman imigran Tamil.
- Mahima Dharma: sekte Hinduisme yang penganutnya banyak terdapat di Orissa, India. Sekte ini diprakarsai oleh seorang guru spiritual yang dikenal dengan nama Mahima Swami atau Mahima Gosain.[136] Sekte ini memusatkan kebaktian pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Alekha, serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana arca, gambar, atau pun pratima.[136]
- Ravidassia: sistem kepercayaan monoteistis berdasarkan ajaran Guru Ravidass, tokoh yang dikenal oleh umat Hindu atau pun Sikh. Umat Ravidassia meyakini bahwa Ravidass adalah guru spiritual, sedangkan umat Sikh menganggapnya sebagai bhagat (orang suci).[137] Ajaran Ravidassia merupakan cabang dari gerakan Bhakti yang muncul di India sejak abad ke-15. Ravidassia mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan yang disebut Hari, dan tujuan kehidupan adalah mencapai moksa, yaitu bertemu dengan Hari.
- Saura: sekte Hinduisme yang memuja Surya sebagai Saguna-brahman. Aliran ini berpangkal dari tradisi Weda kuno. Kini, hanya ada sedikit penganut aliran ini di India.
- Srauta: golongan brahmana ortodoks yang mengikuti Purwamimamsa,
berbeda dengan Wedanta yang diikuti oleh kaum brahmana lainnya. Mereka
merupakan penganut tradisi ritual konservatif dan membentuk golongan
minoritas di antara umat Hindu di India. Penganut aliran ini biasanya
terdapat di negara bagian Kerala (kaum Nambudiri) dan Karnataka (Mattur, Holenarsipur, Sringeri).
Gerakan keagamaan
Pengikut Gerakan Hare Krishna di
Rusia menyelenggarakan prosesi
Rathayatra pada musim dingin 2011.
Beberapa gerakan Hindu modern muncul di India pada periode antara abad ke-18 dan ke-20, antara lain sebagai berikut:
- Brahmoisme: gerakan keagamaan yang berasal dari Benggala pada awal abad ke-19. Gerakan ini didirikan oleh Ram Mohan Roy. Beliau menggagas pentingnya pemanfaatan nalar untuk mereformasi praktik sosial dan religius agama Hindu, dengan pengaruh dari agama monoteistis dan ilmu pengetahuan modern.[138] Brahmoisme menolak dogma, takhayul, otoritas kitab suci, dan penggambaran Tuhan.[139]
- Prarthana Samaj: gerakan reformasi sosial dan keagamaan yang dimulai di Bombay,
didirikan oleh Dr. Atmaram Pandurang pada tahun 1867 dengan tujuan agar
masyarakat meyakini satu Tuhan dan hanya menyembah satu Tuhan. Gerakan
ini dimulai sebagai reformasi sosial dan keagamaan sebagaimana Brahmo Samaj.
Perintis Prarthana Samaj di Mumbai adalah Paramahamsa Sabha,
perkumpulan rahasia untuk memajukan gagasan-gagasan liberal yang
didirikan oleh Ram Balkrishna Jaykar.[140]
- Arya Samaj: gerakan reformasi Hindu yang diprakarsai oleh Swami Dayananda, dan didirikan pada tanggal 7 April 1875. Gerakan ini bermaksud mengamalkan Weda sebagaimana mestinya, dan mengesampingkan kitab-kitab yang ditulis setelah Weda. Gerakan ini bersifat monoteistis karena tidak mengakui dewa-dewi tertentu,[142] serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana patung atau lukisan.
- Misi Ramakrishna: gerakan filantropis dan sukarela yang diprakarsai oleh murid Ramakrishna, Swami Vivekananda, pada tanggal 1 Mei 1897.
Gerakan ini berfokus pada masalah kemanusiaan seperti pemeliharaan
kesehatan, bencana alam, kesejahteraan masyarakat desa, pendidikan, dan
lain-lain. Misi gerakan ini berdasarkan konsep Karmayoga. Dalil-dalil yang digunakan adalah filsafat Wedanta.[146]
Di luar
Asia Selatan dan
Asia Tenggara, aliran Hindu yang cukup populer adalah tradisi
Waisnawa yang dibawa oleh misionaris
Gerakan Hare Krishna. Tradisi Hindu juga dilaksanakan di beberapa negara dengan jumlah imigran India yang signifikan, seperti
Mauritius (Afrika bagian selatan) dan
Trinidad dan Tobago (Amerika Tengah).
Keyakinan
Agama Hindu tidak memiliki seorang pendiri dan tidak berpedoman pada satu kitab suci.
Meskipun demikian, ada keyakinan yang kerap dijumpai dalam berbagai
tradisi Hindu. Perihal yang umum dijumpai dalam berbagai keyakinan
masyarakat Hindu—namun tidak untuk terbatas pada beberapa hal
tersebut—meliputi kepercayaan akan zat Yang Mahakuasa (dapat disebut
sebagai
Iswara,
Awatara,
Dewata,
Batara, dan lain-lain),
darma (etika/kewajiban),
samsara (siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang berulang-ulang),
karma (sebab dan akibat),
moksa (kebebasan dari
samsara), dan berbagai
yoga (jalan atau praktik spiritual).
Konsep ketuhanan
Agama Hindu memiliki konsep
Nirguna-brahman (esensi alam semesta; realitas sejati; atau Tuhan impersonal), sementara sebagian mazhab menganut konsep
Saguna-brahman (zat ilahi yang berkepribadian; Tuhan personal yang memiliki kasih sayang), yang menyebut Tuhan dengan nama
Wisnu,
Siwa, atau bahkan
Sakti (kualitas feminin dari Tuhan), contohnya
Saraswati (
gambar).
Agama Hindu merupakan sistem kepercayaan yang kaya, mencakup keyakinan yang bersifat
monoteisme,
politeisme,
panenteisme,
panteisme,
monisme, dan
ateisme.
[151] Konsep ketuhanannya bersifat kompleks dan bergantung pada nurani setiap umatnya atau pada tradisi dan
filsafat yang diikuti. Kadangkala agama Hindu dikatakan bersifat
henoteisme (melakukan pemujaan terhadap satu
Tuhan, sekaligus mengakui keberadaan para
dewa), namun istilah-istilah demikian hanyalah suatu generalisasi berlebihan.
[152]
Mazhab
Wedanta dan
Nyaya menyatakan bahwa
karma itu sendiri telah membuktikan keberadaan Tuhan. Nyaya merupakan suatu perguruan
logika,
sehingga menarik kesimpulan "logis" bahwa [keberadaan] alam semesta
hanyalah suatu "akibat", maka pasti ada suatu "penyebab" di balik
semuanya.
Agama Hindu mengandung suatu konsep filosofis yang disebut
Brahman, yang sering didefinisikan sebagai kenyataan sejati, esensi bagi segala hal, atau sukma
alam semesta yang menjadi asal usul serta sandaran bagi segala sesuatu dan fenomena.
[155] Pada zaman
Brahmanisme, Brahman adalah istilah yang disematkan bagi suatu kekuatan yang membuat
yadnya (upacara) menjadi efektif, yaitu kekuatan spiritual dari ucapan-ucapan suci yang dirapalkan para ahli
Weda, sehingga mereka disebut
brahmana. Kadangkala, Brahman dipandang sebagai Yang Mahamutlak atau Mahakuasa, atau asas ilahi bagi segala
materi,
energi,
waktu,
ruang,
benda, dan sesuatu di dalam atau di luar alam semesta. Sebagai hasil dari berbagai
kontemplasi tentang Brahman, maka Ia dapat dipandang sebagai Tuhan dengan atribut (
Saguna-brahman), Tuhan tanpa atribut (
Nirguna-brahman), dan/atau Tuhan Mahakuasa (
Parabrahman), tergantung mazhab dan aliran.
Mazhab dan aliran
Hindu-dualistis—seperti
Dwaita dan tradisi
Bhakti—meyakini Brahman sebagai Tuhan yang berkepribadian (memiliki
guna
atau "atribut ketuhanan", yaitu supremasi dari sifat-sifat baik manusia
seperti Maha-penyayang, Maha-pemurah, Maha-pelindung, dan sebagainya),
sehingga mereka memujanya dengan nama
Wisnu,
Siwa,
Dewi,
Dewata,
Batara,
dan lain-lain, tergantung aliran masing-masing. Dalam tradisi Hindu
pada umumnya, Tuhan yang dipandang sebagai zat mahakuasa dengan
supremasi dari sifat baik manusia—daripada dianggap sebagai asas semesta
yang tak terbatas—disebut
Iswara,
Bhagawan, atau
Parameswara.
[157] Meski demikian, ada beragam penafsiran tentang Iswara, mulai dari keyakinan bahwa Iswara sesungguhnya tiada—sebagaimana ajaran
Mimamsa—sampai pengertian bahwa Brahman dan Iswara sesungguhnya tunggal, sebagaimana yang diajarkan mazhab Adwaita.
[158] Dalam banyak tradisi
Waisnawa, Ia disebut Wisnu, sedangkan kitab Waisnawa menyebutnya sebagai
Kresna, dan kadangkala menyebutnya
Swayam Bhagawan. Sementara itu, dalam aliran
Sakta, Ia disebut
Dewi atau
Adiparasakti, sedangkan dalam aliran
Saiwa, Ia disebut
Siwa. Ajaran
Smarta yang
monistis memandang bahwa seluruh nama-nama ilahi seperti
Wisnu,
Siwa,
Ganesa,
Sakti,
Surya, dan
Skanda sesungguhnya
manifestasi dari
Brahman yang Maha Esa.
Mazhab
Adwaita Wedanta menolak
teisme dan
dualisme dengan menegaskan bahwa pada hakikatnya Brahman tidak memiliki bagian atau atribut.
[159] Menurut mazhab ini, Tuhan yang berkepribadian atau menyandang atribut tertentu adalah salah satu fenomena
maya,
atau kekuatan ilusif Brahman. Pada hakikatnya, Brahman tidak dapat
dikatakan memiliki sifat-sifat kemanusiaan seperti pelindung, penyayang,
perawat, pengasih, dan sebagainya.
[160] Menurut mazhab ini, pikiran manusia yang terperangkap
maya menyebabkan Brahman terbayangkan sebagai Tuhan dengan sifat atau atribut tertentu, yang dapat disebut sebagai
Iswara,
Bhagawan,
Wisnu, dan nama-nama lainnya.
[160]
Mazhab ini menegaskan bahwa tiada larangan untuk membayangkan Tuhan
dengan sifat-sifat tertentu, namun tujuan hidup sejati adalah untuk
merasakan bahwa "sesuatu yang nyata" dalam tiap makhluk sesungguhnya
tiada berbeda dengan Brahman.
[161] Mazhab Adwaita dapat dikatakan sebagai
monisme atau
panteisme karena meyakini bahwa alam semesta tidak sekadar berasal dari Brahman, namun pada "hakikatnya"
sama dengan Brahman.
Doktrin
ateistis mendominasi aliran Hindu seperti
Samkhya dan
Mimamsa.
[163] Dalam kitab
Samkhyapravachana Sutra dari aliran
Samkhya dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan (
Iswara) tidak dapat dibuktikan sehingga (keberadaan Tuhan) tidak dapat diakui.
[164]
Samkhya berpendapat bahwa Tuhan yang abadi tidak mungkin menjadi sumber
bagi dunia yang senantiasa berubah. Dikatakan bahwa Tuhan merupakan
gagasan metafisik yang dibuat untuk suatu keadaan. Pendukung dari aliran
Mimamsa—yang berdasarkan pada ritual dan
ortopraksi—menyatakan
bahwa tidak ada cukup bukti untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Aliran
ini berpendapat bahwa kita tidak perlu membuat postulat tentang suatu
"pencipta dunia", sebagaimana kita tidak perlu memikirkan siapa penulis
Weda atau Tuhan apa yang dibuatkan upacara. Mimamsa menganggap bahwa nama-nama Tuhan yang tertulis dalam
Weda sebenarnya tidak mengacu pada wujud apa pun di dunia nyata, dan hanya untuk keperluan
mantra
belaka. Atas pemahaman tersebut, mantra itulah yang sebenarnya
merupakan "kekuatan Tuhan", sehingga Tuhan tiada lain hanyalah kekuatan
mantra belaka.
Atman dan jiwa
Dalam agama Hindu terdapat keyakinan bahwa ada "sesuatu yang sejati" dalam tiap individu yang disebut
atman, sifatnya abadi atau tidak terhancurkan.
[167] Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman individu diselimuti oleh lima lapisan:
annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit),
pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan),
manomayakosa (lapisan pikiran atau indera yang menerima rangsangan),
wijanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan),
anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau tubuh kausal).
[168]
Istilah atman dan jiwa kadangkala dipakai untuk konteks yang sama.
Dalam suatu pengertian, atman adalah percikan dari Brahman, sedangkan
jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup.
Menurut teologi Hindu yang
monistis/
panteistis (seperti mazhab
Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari
Brahman. Sukma individu disebut
jiwatman, sedangkan Brahman disebut
paramatman. Maka dari itu, ajaran ini disebut aliran
non-dualis.
[158] Ketika tubuh individu hancur, jiwa tidak turut hancur. Sebaliknya, ia berpindah ke tubuh baru melalui
reinkarnasi (
samsara). Jiwa mengalaminya karena diselubungi oleh
awidya
atau "ketidaksadaran" bahwa dirinya sesungguhnya sama dengan
Paramatman. Tujuan kehidupan menurut mazhab Adwaita adalah untuk
mencapai kesadaran bahwa atman sesungguhnya sama dengan Brahman.
[170] Kitab
Upanishad
menyatakan bahwa siapa pun yang merasakan bahwa atman merupakan esensi
dari tiap individu, maka ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman,
sehingga mencapai
moksa (kebebasan atau kemerdekaan dari proses reinkarnasi/samsara).
[171]
Yoga dari Resi
Patanjali—sebagaimana yang diuraikan dalam
Yogasutra—berbeda dengan
monisme yang diuraikan dalam filsafat Adwaita.
[172]
Menurut yoga, pencapaian spiritual tertinggi bukanlah untuk menyadari
bahwa segala kemajemukan di alam semesta merupakan maya. Jati diri yang
diperoleh saat mencapai pengalaman religius tertinggi bukanlah atman
belaka. Itu hanyalah salah satu jati diri yang ditemukan oleh individu.
Meruntuhkan "tembok alam sadar manusia" untuk membangun "persatuan" jati
diri individu (
jiwatman) dengan sukma alam semesta (
paramatman), merupakan tujuan praktik yoga.
Menurut pemahaman
dualistis seperti mazhab
Dwaita, jiwa merupakan entitas yang berbeda dengan Tuhan, namun memiliki kesamaan. Jiwa bergantung kepada Tuhan, sedangkan pencapaian
moksa (lepas dari
samsara) bergantung kepada cinta pada Tuhan serta kasih sayang Tuhan.
[174]
Para dewa dan awatara
Umat dari berbagai sekte agama Hindu memuja dewa-dewi tertentu yang
tak terhitung banyaknya dan mengikuti aneka upacara untuk memuja
dewa-dewi tersebut. Karena merupakan agama Hindu, maka para penganutnya
memandang kekayaan tradisi tersebut sebagai ungkapan dari suatu realitas
yang kekal. Dewa-dewi yang memanggul senjata dipahami oleh umatnya
sebagai simbol-simbol dari suatu realitas sejati yang tunggal.
— Brandon Toropov & Luke Buckles, The Complete Idiot's Guide to World Religions.
Susastra Hindu menyebutkan suatu kelompok entitas ilahi yang disebut
dewa (atau
dewi dalam bentuk feminin, sedangkan
dewata bersinonim dengan dewa), bermakna "yang bersinar", atau dapat diterjemahkan sebagai "makhluk surgawi".
[176][177] Para dewa merupakan bagian integral dalam kebudayaan Hindu dan ditampilkan dalam
kesenian (
lukisan,
patung,
relief),
arsitektur, dan
ikon. Cerita mitologis mengenai keberadaan mereka terkandung dalam sejumlah sastra Hindu, terutama
wiracarita Hindu dan
Purana.
Keberadaan banyak
dewa diyakini sebagai
awatara dari
Brahman.
[h] Pustaka
Weda dan
Upanishad tidak mengajarkan
panteisme atau pun
politeisme, melainkan
monoteisme dan
monisme. Ada banyak dewa, namun mereka merupakan manifestasi berbagai aspek dari suatu "kenyataan sejati". Keberadaan konsep monisme dan monoteisme berjalin-jalin. Dalam banyak sloka, kenyataan sejati dikatakan
imanen, sedangkan dalam sloka lainnya dikatakan
transenden.
Secara monisme, kenyataan sejati tersebut adalah Brahman, sedangkan
pandangan monoteisme lebih berfokus pada wujud-wujud beratribut (
Saguna) dari Brahman. Dalam kajian tentang
Trimurti,
Sir William Jones menyatakan bahwa umat Hindu "menyembah Tuhan dalam tiga wujud:
Wisnu,
Siwa,
Brahma … Gagasan fundamental agama Hindu, bahwa metamorfosis, atau transformasi, dicontohkan melalui [konsep] awatara."
[181]
Dalam kitab suci
Regweda disebutkan adanya 33 dewa, dan
Purana menjelaskan bahwa sebagian di antaranya merupakan para putra Dewi
Aditi dan Bagawan
Kasyapa. Menurut
mitologi Hindu dalam
Purana, sebelum memperoleh keabadian melalui tirta
amerta (minuman keabadian), mereka adalah golongan makhluk yang berseteru dengan para
asura atau
raksasa dan dapat gugur dalam pertempuran. Kekuatan mereka berbeda dengan tiga dewa utama yang abadi—
Brahma,
Wisnu,
Siwa—yang disebut
Trimurti (beberapa mazhab Hinduisme menganggapnya sebagai tiga wujud dalam satu entitas).
Biasanya pengertian dewa dibedakan dengan
Iswara
(Tuhan Yang Maha Esa), meskipun banyak umat Hindu menyembah Iswara
dalam suatu perwujudan tertentu (seolah-olah ada Tuhan yang berbeda)
sebagai
istadewata (
iṣṭa devatā), yaitu sosok ideal (dewa-dewi tertentu) yang cenderung dipilih.
[182][183] Pilihan tersebut bergantung pada preferensi seseorang atau menurut tradisi regional dan keluarga.
[184]
Wiracarita Hindu dan
Purana menceritakan beberapa kisah
tentang turunnya Tuhan ke dunia (inkarnasi) dalam wujud fana demi
menegakkan di masyarakat dan menuntun manusia mencapai moksa. Inkarnasi
itu disebut
awatara. Beberapa awatara terkenal merupakan perwujudan Wisnu, meliputi
Rama (tokoh utama
Ramayana) dan
Kresna (tokoh penting dalam
Mahabharata).
Karma dan reinkarnasi
Dua
sadu di Kuil Pahupatinatha,
Nepal.
Sadu adalah istilah bagi kaum
yogi yang sedang menempuh
Rajayoga,
yaitu jalan pengendalian pikiran, demi melepaskan diri dari belenggu
duniawi sehingga dapat mencapai kesadaran spiritual tingkat tinggi atau
bahkan
moksa.
Karma diterjemahkan secara
harfiah sebagai tindakan, kerja, perbuatan, dan dapat dideskripsikan sebagai "hukum moral sebab–akibat".
[186] Menurut kitab
Upanishad, suatu
jiwa membentuk
sanskara (kesan) dari tindakan, baik secara fisik atau mental.
Linga-sarira
(tubuh yang lebih halus daripada tubuh fisik namun lebih kasar daripada
jiwa) dilekati kesan-kesan tersebut, dan membawanya ke kehidupan
selanjutnya, sehingga menciptakan jalan kehidupan tersendiri bagi setiap
orang.
[187] Maka dari itu, konsep karma—yang universal, netral, dan tak pernah meleset—berkaitan dengan
reinkarnasi, demikian pula kepribadian, watak, dan keluarga seseorang. Karma menyatukan konsep
kehendak bebas dan
nasib.
Karena agama Hindu meyakini bahwa
jiwa tidak dapat dihancurkan, maka kematian tidak dipandang sebagai
momok bagi kehidupan karena merupakan fenomena alami.
[189]
Maka dari itu, seseorang yang sudah meninggalkan ambisi dan
keinginannya, tidak memiliki tanggung jawab lagi di dunia, atau
terjangkiti penyakit mematikan dapat mengusahakan kematian dengan cara
Prayopavesa.
[190]
Siklus
aksi, reaksi, kelahiran, kematian, dan kelahiran adalah proses berkesinambungan yang disebut
samsara (reinkarnasi). Pemahaman akan reinkarnasi dan karma merupakan premis kuat dalam filsafat Hindu. Dalam kitab
Bhagawadgita (
II:22) tertulis:
- Seperti halnya seseorang memakai baju baru dan menanggalkan baju yang lama,
- demikian pula jiwa memasuki tubuh yang baru, meninggalkan tubuh yang lama.
Dalam kepercayaan Hindu, samsara memberikan kesempatan bagi manusia
untuk menikmati kesenangan sesaat pada setiap kelahiran. Selama manusia
terlena untuk terus menikmati kesenangan tersebut, maka mereka akan
dilahirkan kembali. Akan tetapi, pelepasan diri dari belenggu samsara
(melalui
moksa) diyakini dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian abadi.
[191]
Menurut kepercayaan ini, setelah mengalami reinkarnasi berkali-kali,
pada akhirnya suatu atman akan mencari persatuan dengan sukma alam
semesta (Brahman/Paramatman).
Dalam agama Hindu, tujuan hidup sejati—yang disebut sebagai
moksa,
nirwana, atau
semadi—dipahami
dalam berbagai arti: realisasi penyatuan jiwa dengan Tuhan; realisasi
hubungan kekal dengan Tuhan; realisasi dari penyatuan seluruh hal yang
ada; wawas diri sempurna serta pengetahuan akan diri yang sejati;
pencapaian atas kedamaian batin yang sempurna; dan pelepasan dari segala
keinginan duniawi. Realisasi semacam itu membebaskan seseorang dari
samsara dan mengakhiri siklus lahir kembali.
[192][193]
Konseptualisasi moksa berbeda-beda tergantung mazhab atau aliran Hinduisme. Sebagai contoh, mazhab
Adwaita Wedanta
berpedoman bahwa setelah mencapai moksa, atman tidak lagi mengenali
dirinya sebagai individu, melainkan menyadari bahwa Brahman identik
dalam segala hal, termasuk kesamaannya dengan atman. Pengikut mazhab
Dwaita
(dualistis) memandang individu sebagai bagian dari Brahman, dan setelah
mencapai moksa, mereka yakin akan memperoleh kekekalan di
loka bersama dengan manifestasi
Iswara yang dipilihnya. Maka dari itu, dianalogikan bahwa pengikut
dwaita berharap untuk "menikmati gula", sementara pengikut Adwaita berharap untuk "menjadi gula".
[194]
Tujuan hidup manusia
Filsafat Hindu klasik mengakui empat hal yang harus dipenuhi sebagai
tujuan hidup manusia—sebagaimana dijabarkan di bawah ini—yang disebut
purusarta:
- Darma:
Darma adalah prinsip yang tak boleh diabaikan oleh umat Hindu. Darma
dapat dipandang sebagai kewajiban (dalam hal kegiatan duniawi atau pun
rohani), hukum, keadilan, tindakan benar, dan berbagai kualitas yang mendukung harmoni segala sesuatu. Brihadaranyaka-upanishad memandang darma sebagai prinsip universal—tentang aturan, kewajiban, dan harmoni—yang berasal dari Brahman. Darma berlaku sebagai prinsip moral bagi alam semesta. Darma merupakan sat (kebenaran), ajaran pokok dalam agama Hindu. Hal ini berpangkal pada pernyataan dalam Regweda bahwa "Ekam Sat," (Kebenaran Hanya Satu), dari keyakinan bahwa Brahman itu sendiri merupakan "Satcitananda" (Kebenaran-Kesadaran-Keberkatan). Darma tidak hanya sekadar aturan atau harmoni, namun kebenaran murni. Dalam Mahabharata, Kresna mendefinisikan darma sebagai penegak perkara di dunia manusia dan dunia lain (Mbh 12.110.11). Kata Sanātana berarti 'kekal', 'tak mati', atau 'selamanya'; maka, agama Hindu sebagai Sanātana-dharma bermakna suatu darma yang tidak berawal atau berakhir.
- Arta:
Arta adalah upaya mencari harta demi penghidupan dan kemakmuran. Hal
ini juga mencakup usaha mencari pekerjaan, berpolitik, memelihara
kesehatan, dan mencari kesejahteraan material.[196]
Arta dibutuhkan demi mencapai kehidupan yang makmur sentosa, terutama
bagi umat yang sudah berumah tangga. Ajaran tentang arta disebut Arthashastra, dan yang termasyhur di antaranya adalah Arthashastra karya Kautilya.
- Kama: Kama berarti hasrat, keinginan, gairah, kemauan, dan kenikmatan panca indra. Kama dapat pula berarti kesenangan estetis dalam menikmati kehidupan (seni, hiburan, kegembiraan), kasih sayang, atau pun asmara.[199] Akan tetapi, kama dalam hubungan asmara atau percintaan hanya dapat dipenuhi melalui hubungan pernikahan. Kama dibutuhkan dalam membangun kehidupan rumah tangga, atau grehasta.
- Moksa: Moksa atau mukti adalah tujuan hidup yang utama bagi umat Hindu. Moksa adalah keadaan yang sama sekali berbeda dengan pencapaian surga.
Moksa adalah suatu kondisi saat individu menyadari esensi dan realitas
sejati dari alam semesta, sehingga individu mengalami kemerdekaan dari
kesan-kesan duniawi, tanpa suka atau pun duka, lepas belenggu samsara, serta lepas dari hasil perbuatan (karma) yang melekati individu selama mengalami proses reinkarnasi.
Empat jalan spiritualitas (caturmarga) dalam agama Hindu. Setiap jalan menyediakan cara yang berbeda untuk mencapai
moksa.
Umat Hindu memenuhi tujuan hidupnya dengan menempuh jalan yang berbeda-beda. Jalan tersebut merupakan
yoga. Yoga di sini dapat diartikan sebagai disiplin fisik, mental, dan spiritual demi memperoleh kedamaian dan ketenangan pikiran.
[201]
Dalam konteks dan tradisi lain, yoga dapat pula didefinisikan sebagai
"upaya mengendalikan pikiran agar [pikiran] tidak liar", atau "[usaha]
mempersatukan diri dengan Tuhan".
[201] Ajaran tentang pelaksanaan yoga dihimpun dan diuraikan oleh para
resi atau orang bijak. Kitab yang memuat ajaran yoga meliputi
Bhagawadgita,
Yogasutra,
Hathayoga-pradipika, dan
Upanishad sebagai basis filosofis dan historisnya. Yoga mengarahkan umat Hindu untuk mencapai tujuan hidup yang spiritual (moksa,
samadhi, atau
nirwana), baik secara langsung maupun tidak langsung. Empat macam jalan (yoga) utama yang sering disinggung yakni:
[202]
- Karmayoga (melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya dengan ikhlas)
- Bhaktiyoga (mencintai Tuhan dan menyayangi segala makhluk)
- Jnanayoga (mencari pengetahuan dan berkontemplasi tentang Tuhan)
- Rajayoga (mengendalikan pikiran dengan meditasi, sikap tubuh, atau semacamnya)
Seseorang dapat memilih salah satu atau beberapa yoga sekaligus,
sesuai dengan kecenderungan dan pemahamannya. Beberapa aliran Hinduisme
yang menekankan pengabdian mengajarkan bahwa
bhakti adalah
satu-satunya jalan praktis untuk mencapai kesempurnaan spiritual bagi
masyarakat awam, berdasarkan kepercayaan bahwa dunia sedang berada pada
masa
Kaliyuga (salah satu jangka waktu dalam siklus
Yuga yang kini sedang berlangsung).
[203]
Melaksanakan salah satu yoga tidak berarti mengabaikan yang lainnya.
Banyak mazhab Hinduisme mengajarkan bahwa berbagai yoga secara alami
berbaur dan mendukung pelaksanaan yoga lainnya. Contohnya praktik
jnanayoga, yang dianggap pasti mengarahkan seseorang untuk memberikan kasih sayang murni (tujuan utama
bhaktiyoga), dan demikian sebaliknya.
[204] Seseorang yang mendalami meditasi tingkat tinggi (seperti yang ditekankan
raja yoga) harus mewujudkan prinsip pokok dari
karmayoga,
jnanayoga, dan
bhaktiyoga, baik secara langsung maupun tak langsung.
[202][205]
Pustaka suci
Menurut tokoh spiritual Hindu
Swami Vivekananda,
agama Hindu berdasarkan kepada himpunan pedoman spiritual yang
ditemukan oleh orang yang berbeda-beda pada zaman yang berbeda-beda.
[206][207] Selama berabad-abad, pedoman itu diwariskan secara lisan dalam bentuk syair agar dapat dihafalkan, sampai akhirnya dituliskan.
[208] Selama berabad-abad, para
resi menyaring ajaran tersebut dan memperluas dalil-dalilnya. Pada masa setelah
Periode Weda dan menurut keyakinan Hindu masa kini, banyak pustaka Hindu tidak untuk ditafsirkan secara
harfiah. Yang diutamakan adalah
etika dan
makna metaforis yang terkandung di dalamnya.
[209] Di antara pustaka suci tersebut,
Weda merupakan yang paling tua, yang diikuti dengan
Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari
filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah
Tantra,
Agama,
Purana, serta dua
wiracarita, yaitu
Ramayana dan
Mahabharata.
Bhagawadgita adalah ajaran yang dimuat dalam
Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai intisari
Weda. Banyak pustaka Hindu yang ditulis dalam
bahasa Sanskerta. Pustaka-pustaka tersebut digolongkan menjadi dua kelas:
Sruti dan
Smerti.
Sruti
Sruti (artinya "apa yang didengar") terutama mengacu kepada kumpulan
Weda, yang merupakan bentuk pustaka Hindu tertua. Banyak umat Hindu mengagungkan
Weda sebagai kebenaran abadi yang diwahyukan kepada para
resi purbakala,
[207] sementara umat yang lain tidak menyangkutpautkan penyusunan
Weda dengan Tuhan atau seseorang. Umat Hindu meyakini kumpulan
Weda sebagai pedoman bagi dunia
spiritual, yang akan ada selama-lamanya, bahkan tetap ada jika seandainya tidak pernah diwahyukan kepada para resi.
[206][212] Umat Hindu memiliki kepercayaan demikian karena mengimani bahwa kebenaran spiritual dalam
Weda bersifat kekal, yang dapat terus diungkapkan dengan cara-cara yang baru.
[213]
Ada empat kitab
Weda, yaitu
Regweda (
Ṛgveda),
Samaweda (
Sāmaveda),
Yajurweda (
Yajurveda), dan
Atharwaweda (
Atharvaveda). Kitab
Regweda adalah kitab
Weda yang pertama dan terpenting. Setiap
Weda dibagi menjadi empat bagian: yang utama—
Weda yang baku—adalah
Samhita (
Saṃhitā), yang menghimpun
mantra-mantra. Tiga bagian lainnya membentuk seperangkat golongan suplemen bagi
Samhita, biasanya dalam bentuk prosa dan dipercaya berusia lebih muda daripada
Saṃhitā. Adapun tiga bagian tersebut adalah
Brahmana (
Brāhmaṇa),
Aranyaka (
Āraṇyaka), dan
Upanishad. Dua bagian pertama disebut
Karmakanda (
Karmakāṇḍa; porsi ritual), sedangkan yang terakhir disebut
Jnanakanda (
Jñānakāṇḍa; porsi pengetahuan).
[214] Kumpulan
Weda berfokus kepada pelaksanaan upacara, sementara kumpulan
Upanishad berfokus kepada pandangan spiritual dan ajaran filosofis, serta memperbincangkan
Brahman dan
reinkarnasi.
[209][215][216]
Smerti
Kitab-kitab Hindu yang tak termasuk
Sruti digolongkan ke dalam
Smerti (ingatan). Kitab Smerti yang terkenal yaitu
wiracarita India (
Itihasa), terdiri dari
Mahabharata (
Mahābhārata) dan
Ramayana (
Rāmāyaṇa).
Itihasa adalah suatu bagian dari
kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah kepahlawanan para raja dan kesatria Hindu pada masa lampau dan dikombinasikan dengan
filsafat keagamaan,
mitologi, dan cerita tentang makhluk supernatural.
Kitab
Bhagawadgita (
Bhagavadgītā) merupakan suatu bagian integral dalam
Mahabharata, dan merupakan salah satu kitab suci Hindu yang masyhur. Kitab tersebut mengandung ajaran filosofis yang dinarasikan oleh
Kresna--sebagai
awatara Wisnu--kepada
Arjuna, menjelang
perang di Kurukshetra.
Bhagawadgita terdiri dari delapan belas bab dan berisi ± 650
sloka.
Setiap bab menguraikan jawaban-jawaban yang diajukan oleh Arjuna kepada
Kresna. Jawaban-jawaban tersebut merupakan wejangan suci sekaligus
pokok-pokok ajaran
Weda.[217] Akan tetapi, kitab yang termasuk
Gita—kadangkala disebut
Gitopanishad—seringkali digolongkan ke dalam Sruti, karena konteksnya bersifat
Upanishad.
Kitab-kitab
Purana (
Purāṇa)—yang menguraikan ajaran-ajaran Hindu melalui kisah-kisah yang gamblang—tergolong ke dalam Smerti.
Purana memuat
mitologi,
legenda, dan kisah-kisah zaman purba yang diyakini kebenarannya oleh umat Hindu. Kata
Purana berarti "sejarah kuno" atau "cerita kuno". Penulisan kitab-kitab
Purana diperkirakan dimulai sekitar tahun
500 SM. Terdapat delapan belas kitab
Purana yang disebut
Mahapurana.
Kitab lain yang tergolong ke dalam
Smerti meliputi
Dewimahatmya (
Devīmahātmya),
Tantra,
Yogasutra,
Tirumantiram,
Siwasutra, dan
Agama (
Āgama). Selain itu, ada kitab
Manusmerti,
yang merupakan kitab hukum preskriptif yang mendasari aturan
kemasyarakatan dan stratifikasi sosial yang kemudian menuntun masyarakat
membentuk
sistem kasta di India. Kitab
Tantra memuat tentang cara pemujaan masing-masing aliran dalam agama Hindu. Kitab
Tantra juga mengatur tentang pembangunan
tempat suci Hindu dan peletakkan
arca. Kitab
Nitisastra memuat ajaran kepemimpinan dan pedoman untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Kitab
Jyotisha merupakan kitab yang memuat ajaran sistem
astronomi
tradisional Hindu. Kitab Jyotisha berisi pedoman tentang benda langit
dan peredarannya. Kitab Jyotisha digunakan untuk meramal dan
memperkirakan datangnya suatu
musim.
Sejarah
Periodisasi
James Mill (1773–1836), dalam bukunya
The History of British India (1817), membagi sejarah India menjadi tiga tahap, yaitu peradaban Hindu, Muslim, dan Britania. Periodisasi ini menuai kritik karena kesalahpahaman yang ditimbulkannya. Periodisasi lainnya memilah-milah menjadi periode kuno, klasik, pertengahan, dan modern. Smart dan Michaels tampaknya mengikuti periodisasi menurut Mill,
[i] sedangkan Flood dan Muesse mengikuti periodisasi yang terbagi menjadi periode kuno, klasik, pertengahan, dan modern.
Periode-periode yang berbeda ditentukan sebagai masa Hinduisme Klasik:
- Smart menyatakan rentang waktu antara 1000 SM dan 100 M sebagai "praklasik". Itu merupakan periode formatif bagi Upanishad dan Brahmanisme,[j]
Jainisme, dan Buddhisme. Menurut Smart, "periode klasik" berlangsung
dari 100 M hingga 1000 M, dan bertepatan dengan suburnya "Hinduisme
Klasik", serta pertumbuhan dan kemunduran Buddha Mahayana di India.
- Menurut Michaels, rentang waktu antara 500 SM dan 200 SM adalah masa "Reformisme Asketis",
sedangkan rentang waktu antara 200 SM dan 1100 M adalah masa "Hinduisme
Klasik", karena adanya titik balik antara agama Weda dan agama Hindu.
- Muesse menyatakan perbedaan rentang waktu yang lebih jauh, yaitu
antara 800 SM dan 200 SM, yang ia sebut sebagai "Periode Klasik".
Menurut Muesse, beberapa konsep dasar agama Hindu, yaitu karma,
reinkarnasi, serta pencerahan dan transformasi seseorang—yang tidak
ditemui dalam agama Weda—berkembang pada periode tersebut.
Smart |
Michaels |
Muesse |
Flood |
Umum |
Detail |
Peradaban Lembah Sungai Indus
dan
Periode Weda
(kr. 3000–1000 SM) |
Agama-Agama Pra-Weda
(prasejarah–kr. 1750 SM) |
Peradaban Lembah Sungai Indus
(3300–1400 SM) |
Peradaban Lembah Sungai Indus
(kr. 2500–1500 SM) |
Agama Weda Kuno
(kr. 1750–500 SM) |
Periode Weda Awal
(kr. 1750–1200 SM) |
Periode Weda
(1600–800 SM) |
Periode Weda
(kr. 1500–500 SM) |
Periode Weda Pertengahan
(dari 1200 SM) |
Periode Praklasik
(kr. 1000 SM–100 M) |
Periode Weda Akhir
(dari 850 SM) |
Periode Klasik
(800–200 SM) |
Reformisme Asketis
(kr. 500–200 SM) |
Periode Epos dan Purana
(kr. 500 SM–500 M) |
Hinduisme Klasik
(kr. 200 SM–1100 M) |
Hinduisme Praklasik
(kr. 200 SM–300 M) |
Periode Epos dan Purana
(200 SM–500 M) |
Periode Klasik
(kr. 100 M–1000 M) |
"Zaman Kejayaan"
(Kemaharajaan Gupta)
(kr. 320–650 M) |
Hinduisme-Klasik Akhir
(kr. 650–1100 M) |
Periode-Purana Pertengahan dan Akhir
(500–1500 M) |
Periode-Purana Pertengahan dan Akhir
(500–1500 M) |
Peradaban Hindu-Islam
(kr. 1000–1750 M) |
Penaklukan Muslim dan
Kemunculan Sekte-Sekte Hinduisme
(kr. 1100–1850 M) |
Abad Modern
(1500–kini) |
Abad Modern
(kr. 1500–kini) |
Periode Modern
(kr. 1750–kini) |
Hinduisme Modern
(sejak kr. 1850) |
Agama-Agama Pra-Weda
Ras manusia pertama yang menduduki
India (
kr. 40.000–60.000 tahun yang lalu, saat periode
Paleolitik) adalah
Australoid yang mungkin memiliki hubungan dengan
penduduk asli Australia.
[236] Ada dugaan bahwa ras tersebut hampir punah atau terdesak oleh gelombang migrasi pada masa berikutnya.
Setelah pendudukan oleh Australoid, maka ras
Kaukasoid (meliputi bangsa
Elamo-Dravida [
kr. 4000 hingga
6000 SM] dan
Indo-Arya [
kr. 2000 hingga
1500 SM]) dan
Mongoloid (
Sino-Tibet) bermigrasi ke India. Bangsa Elamo-Dravida
[k] ada kemungkinan berasal dari
Elam, kini merupakan wilayah
Iran.
Agama prasejarah tertua di India—yang mungkin meninggalkan jejaknya pada agama Hindu
[l]—berasal dari zaman
mesolitik dan
neolitik.
Beberapa agama suku di India masih bertahan, mendahului dominansi agama
Hindu, namun tidak harus dianggap bahwa ada banyak kemiripan antara
masyarakat suku pada zaman prasejarah dengan masa kini.
[246]
Menurut
antropolog Gregory Possehl,
peradaban lembah sungai Indus (2600–1900 SM) mengandung titik pangkal yang logis, atau mungkin
arbitrer, bagi beberapa aspek pada tradisi Hindu di kemudian hari. Agama pada masa tersebut mengandung pemujaan kepada Dewa Yang Mahakuasa, yang dibandingkan oleh beberapa ahli (terutama
John Marshall) sebagai
proto-Siwa, dan mungkin sesosok Ibu Dewi, yang mendasari figur
Sakti.
Praktik-praktik lain dari zaman peradaban lembah sungai Indus yang
berlanjut ke periode Weda meliputi pemujaan kepada air dan api. Akan
tetapi, hubungan antara dewa-dewi dan praktik agama lembah sungai Indus
dengan agama Hindu masa kini telah menjadi subjek perselisihan politis
serta perdebatan para ahli.
Periode Weda
Periode Weda—yang berlangsung dari
kr. 1750 sampai 500 SM
[m]—disebut demikian karena berdasarkan agama berbasis
Weda yang dianut oleh bangsa
Indo-Arya,
[n] yang bermigrasi ke India barat daya setelah mundurnya peradaban lembah sungai Indus (ada kemungkinan dari
stepa Asia Tengah). Bangsa ini membawa serta bahasa dan agama mereka. Agama mereka berkembang lebih jauh ketika bermigrasi ke dataran
India Utara setelah
kr. 1100 SM dan menjadi pastoralis.
Meskipun kepercayaan dan praktik pada masa Hinduisme Praklasik boleh jadi berasal dari bahan-bahan
agama Proto-Indo-Europa (yang masih hipotesis),
[260] sastra yang mendasari tradisi pada masa itu adalah
Weda Samhita, sehingga periode tersebut dinamai demikian. Kitab tertua di antara sastra
Weda tersebut adalah
Regweda, yang diperkirakan telah disusun pada periode 1700–1100 SM.
[o] Sastra
Weda memusatkan pemujaan kepada para dewa seperti
Indra,
Baruna, dan
Agni, serta melangsungkan upacara
Soma. Kurban dengan api, yang disebut
yadnya (
yajña) dilaksanakan dengan merapalkan
mantra-mantra Weda. Sastra
Weda
dikodifikasi ketika bangsa Indo-Arya mulai menduduki dataran India
Utara yang subur, kemudian melakukan transisi dari masyarakat
penggembala menuju masyarakat agraris, sehingga kebutuhan akan
organisasi yang lebih terstruktur mulai timbul. Masyarakat baru tersebut
melibatkan penduduk yang lebih dahulu bermukim di dataran subur
tersebut. Mereka dimasukkan ke dalam
sistem warna menurut bangsa Arya, dengan otoritas politik dan keagamaan berada di tangan kaum
brahmana dan
kesatria.
Selama Periode Weda Awal (
kr. 1500–1100 SM), suku-suku penganut
Weda merupakan suku penggembala, berkelana di sekitar India sebelah barat laut. Setelah 1100 SM, seiring ditemukannya
besi, suku-suku penganut
Weda berpindah ke dataran India Utara sebelah barat, dan mengadaptasi gaya hidup agraris. Bentuk-bentuk wilayah berdaulat yang belum sempurna mulai muncul, dan yang paling menonjol atau berpengaruh adalah kerajaan
suku Kuru. Kerajaan tersebut merupakan ikatan kesukuan, yang kemudian berkembang menjadi masyarakat setingkat
negara—yang pertama kali tercatat dalam sejarah
Asia Selatan—sekitar 1000 M.
Secara terang-terangan, mereka mengubah warisan budaya dari Periode
Weda sebelumnya, mengumpulkan himne-himne Weda menjadi suatu himpunan,
dan mengembangkan upacara-upacara baru yang menonjol dalam peradaban
India sebagai upacara-upacara
srauta, yang berkontribusi bagi "sintesis klasik" atau "sintesis Hindu".
Pada
abad ke-9 dan
ke-8 SM terjadi penyusunan kitab-kitab
Upanishad tertua.
[269] Upanishad membentuk suatu dasar teoritis bagi Hinduisme Klasik dan dikenal sebagai
Wedanta (kesimpulan dari
Weda). Kitab-kitab
Upanishad kuno menangkal intensitas upacara-upacara yang kian bertambah. Spekulasi
monistis yang beragam dari ajaran
Upanishad disintesiskan menjadi suatu kerangka teistis dalam kitab suci Hindu
Bhagawadgita.
Etika dalam kitab-kitab
Weda berdasarkan konsep
satya dan
reta. Satya adalah prinsip
integrasi
yang berakar pada kemutlakan. Reta adalah ungkapan dari satya, yang
meregulasi dan mengkoordinasi jalannya alam semesta beserta segala
sesuatu di dalamnya.
Kesesuaian dengan reta akan memungkinkan sesuatu berjalan sebagaimana
mestinya, sedangkan penyimpangan akan mengakibatkan hal yang tidak
diinginkan. Istilah
dharma sudah digunakan dalam filsafat-filsafat Brahmanis, yang dipandang sebagai aspek dari reta. Istilah reta juga dikenal dalam
agama Proto-Indo-Iran, yaitu agama orang-orang
Indo-Iran sebelum kehadiran kitab-kitab
Weda (Indo-Aryan) dan
Zoroastrianisme (Iran).
Asha (
aša) adalah istilah dalam
bahasa Avesta yang mirip dengan
ṛta dalam
Weda.
Kitab-kitab
Weda merupakan pustaka bagi golongan atas, dan tidak semata-mata mengungkapkan gagasan atau praktik yang populer. Agama berbasis
Weda pada periode selanjutnya hadir berdampingan dengan agama-agama lokal—seperti pemujaan
Yaksa[279]—dan ia sendiri merupakan hasil dari campuran antara kebudayaan
Indo-Arya dengan
Harrapa.
Reformisme Asketis
Dua tokoh terkemuka dari golongan
Sramana, tradisi yang tidak mengakui kewenangan sastra
Weda. Di kemudian hari, Mahavira menjadi figur utama dalam
Jainisme, sedangkan Siddhartha Gautama dalam
Buddhisme.

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Sramana
Peningkatan urbanisasi di India pada
abad ke-7 dan
ke-6 SM telah mendukung terjadinya gerakan
asketis atau
Sramana yang menentang fanatisme terhadap berbagai upacara.
Mahavira (
kr. 549–477 SM, pemuka
Jainisme) dan
Buddha Gautama (
kr. 563–483 SM, penggagas tradisi
Buddhisme) adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan tersebut. Menurut
Heinrich Zimmer, Jainisme dan Buddhisme adalah bagian dari warisan kebudayaan pra-Weda, yang juga meliputi
Samkhya dan
Yoga:
Jainisme tidak berasal dari sumber-sumber [budaya]
Brahman-
Arya,
[p] tetapi mencerminkan
kosmologi dan
antropologi
masyarakat kuno pra-Arya golongan atas [yang tinggal] di India bagian
timur laut – dengan berpangkal pada dasar-dasar yang sama tentang
spekulasi
metafisis kuno seperti Yoga, Sankhya, dan Buddhisme, yaitu ajaran-ajaran India lainnya yang tidak berbasis Weda.
[q]
Dalam suatu bagian, tradisi Sramana mengajarkan konsep siklus kelahiran dan kematian (siklus
reinkarnasi), konsep
samsara, dan konsep pencarian kebebasan (dari reinkarnasi tersebut), yang menjadi karakteristik Hinduisme.
[284]
James B. Pratt dalam bukunya
The Pilgrimage of Buddhism and a Buddhist Pilgrimage menulis bahwa
Oldenberg (1854–1920),
Neumann (1865–1915), dan
Radhakrishnan (1888–1975) percaya bahwa
Tripitaka Buddhis mendapat pengaruh dari kitab-kitab
Upanishad, sedangkan
la Vallee Poussin menyatakan ketiadaan pengaruh apa pun, dan ahli lainnya menegaskan bahwa pada bagian-bagian tertentu, Sang Buddha menyatakan
antitesis secara langsung kepada
Upanishad.
Hinduisme Klasik
Periode Hinduisme Klasik diawali dengan periode Hinduisme Praklasik, dilanjutkan dengan zaman kejayaan Hindu pada masa
Dinasti Gupta, lalu ditutup dengan periode Hinduisme Klasik Akhir. Periode Hinduisme Klasik ini disusul dengan kedatangan agama
Islam ke
Asia Selatan, lalu diikuti dengan pendirian aliran atau sekte dalam agama Hindu.
Hinduisme Praklasik
Pada periode dari 500 hingga 200 SM, dan
kr. 300 M, terjadi "sintesis Hindu", yang menyerap pengaruh-pengaruh Sramana dan Buddha, serta kemunculan tradisi
bhakti dalam balutan Brahmanisme melalui pustaka
Smerti. Sintesis ini timbul di bawah tekanan perkembangan agama Buddha dan Jainisme.
Menurut Embree, beberapa tradisi keagamaan lainnya hadir berdampingan dengan agama berbasis
Weda. Agama-agama pribumi tersebut akhirnya menemukan tempat di bawah naungan agama Weda. Ketika Brahmanisme mulai kehilangan pamornya dan harus bersaing dengan Buddhisme dan Jainisme, agama-agama yang populer mendapat kesempatan untuk menonjolkan ajarannya. Menurut Embree:
Para Brahmanis tampaknya bergiat untuk memperluas
perkembangan [agamanya] sebagai maksud untuk menghadapi gempuran
aliran-aliran yang lebih
heterodoks. Pada saat yang sama, di kalangan agama-agama pribumi yang ada, kesetiaan terhadap kewenangan sastra
Weda
telah memberikan suatu tali persatuan yang tipis—namun begitu
signifikan—di antara kemajemukan dewa-dewi dan praktik keagamaan [yang
ada].
[r]
Menurut Larson, para
brahmana menanggapinya dengan
asimilasi dan
konsolidasi. Hal tersebut tercerminkan dalam pustaka
Smerti yang mulai disusun pada periode itu. Kitab-kitab Smerti dari periode 200 SM–100 M mempermaklumkan kewenangan
Weda, sehingga pengakuan terhadap kewenangan
Weda menjadi kriteria utama untuk membedakan Hinduisme dengan aliran
heterodoks yang menolak
Weda.
Sebagian besar gagasan dasar dan praktik Hinduisme Klasik berasal dari
pustaka Smerti, yang kemudian menjadi inspirasi dasar bagi kebanyakan
umat Hindu.
Dua
wiracarita India terkemuka—
Ramayana dan
Mahabharata—yang tergolong ke dalam Smerti, disusun dalam periode panjang selama akhir zaman Sebelum Masehi dan awal zaman Masehi.
[292]
Pustaka tersebut mengandung cerita mitologis tentang para pemimpin dan
peperangan pada zaman India Kuno, dan diselingi dengan filsafat dan
ajaran agama. Sastra
Purana yang disusun pada masa berikutnya mengandung cerita tentang
para dewa-dewi, interaksi mereka dengan manusia, dan pertempuran mereka melawan para
rakshasa. Kitab
Bhagawadgita memperkuat keberhasilan konsolidasi agama Hindu, dengan memadupadankan gagasan-gagasan Brahmanis dan Sramana menjadi suatu kebaktian yang
teistis.
[295]
Pada awal zaman Masehi, beberapa mazhab
filsafat Hindu dikodifikasikan secara formal, meliputi
Samkhya,
Yoga,
Nyaya,
Waisesika,
Purwamimamsa, dan
Wedanta.
[296]
"Zaman Kejayaan"
Selama periode ini, kekuasaan atas India disentralisasi, seiring
dengan berkembangnya perdagangan ke negeri yang jauh, standardisasi
prosedur legal, dan pemberantasan buta huruf.
Buddhisme aliran
Mahayana menyebar, sedangkan kebudayaan Brahmana ortodoks mulai disegarkan kembali di bawah perlindungan Dinasti Gupta, yang dipimpin para raja penganut
Waisnawa. Kedudukan para brahmana diperkuat kembali dan
kuil-kuil Hindu mulai didirikan sebagai dedikasi untuk
dewa-dewi Hindu. Selama pemerintahan Dinasti Gupta, sastra
Purana
mulai ditulis, digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan umum di
kalangan masyarakat pribumi dan buta huruf yang menjalani akulturasi. Para raja Gupta melindungi tradisi Purana yang mulai berkembang demi perbawa wangsa mereka. Hal ini menyebabkan timbulnya Hinduisme-Puranis (
Puranic Hinduism), yang berbeda dengan
Brahmanisme sebelumnya yang mengacu pada
Dharmasastra dan Smerti.
Gerakan Bhakti muncul pada periode ini. Gerakan Bhakti merupakan perkembangan tradisi
bhakti yang tumbuh sangat cepat, bermula di
Tamil Nadu (
India Selatan). Para
Nayanar dari aliran
Saiwa (abad ke-4 – ke-10)
[301] serta para
Alwar dari aliran
Waisnawa (abad ke-3 – ke-9) menyebarkan puisi dan tradisi
bhakti ke berbagai penjuru India dari abad ke-12 hingga ke-18.
[301]
Menurut P.S. Sharma, periode Gupta dan Harsha membentuk—dari segi
intelektual—kurun waktu paling gemilang dalam perkembangan filsafat
India, ketika filsafat Hindu dan Buddha tumbuh subur secara
berdampingan.
Carwaka, mazhab
materialisme ateistis, tampil di
India Utara sebelum abad ke-8.
Hinduisme Klasik Akhir
Setelah runtuhnya
kemaharajaan Gupta dan
Harsha, kekuasaan di India mengalami
desentralisasi. Beberapa kerajaan besar mulai berdiri, dengan
negeri taklukan yang sangat banyak. Kerajaan-kerajaan tersebut dipimpin dengan sistem
feodal.
Kerajaan yang lebih kecil bergantung pada kerajaan yang lebih besar.
Maharaja sulit dijangkau, sangat diagungkan dan didewakan, sebagaimana yang digambarkan dalam
mandala Tantra, dan kadangkala raja digambarkan sebagai pusat mandala.
Perpecahan kekuasaan pusat juga mengarah kepada regionalisasi religiositas, serta persaingan religius. Kultus dan bahasa lokal lebih diutamakan, dan pengaruh Hinduisme-Brahmanis ritualistis (
ritualistic Brahmanic Hinduism) berkurang. Gerakan rakyat dan kebaktian mulai bermunculan, seiring dengan [tumbuhnya] aliran
Saiwa,
Waisnawa,
Bhakti, dan
Tantra, meskipun pengelompokan menurut sekte hanya terjadi saat permulaan perkembangan aliran-aliran tersebut. Gerakan keagamaan berkompetisi untuk memperoleh pengakuan dari penguasa lokal. Agama Buddha kehilangan pamornya setelah
abad ke-8, lalu mulai memudar di India. Hal tersebut tersirat dari penghentian ritus
puja Buddhis di lingkungan istana-istana India pada abad ke-8, ketika dewa-dewa Hindu menggantikan peran
Buddha sebagai pelindung kerajaan.
Sastra
Purana kuno disusun untuk menyebarkan ideologi keagamaan yang awam di kalangan masyarakat pribumi yang mengalami
akulturasi. Seiring dengan
dadal yang dialami Dinasti Gupta,
tanah-tanah perawan
dikumpulkan oleh para brahmana, yang tidak hanya menjamin keuntungan
agraris dari eksploitasi tanah yang dimiliki para raja, tetapi juga
memberikan status bagi kelas penguasa yang baru.
Para brahmana menyebar ke berbagai penjuru India, berinteraksi dengan
warga lokal yang menganut kepercayaan dan ideologi berbeda. Para
brahmana menggunakan
Purana untuk mengajak berbagai klan menjadi masyarakat agraris, serta mengikuti agama dan ideologi para brahmana. Menurut Flood, para brahmana yang mengikuti agama berbasis
Purana kemudian dikenal sebagai
Smarta, artinya orang yang bersembahyang berdasarkan
Smerti, atau
Pauranika, yaitu penganut
Purana. Kepala suku dan warga lokal diserap ke dalam
sistem warna, demi mengendalikan tindak tanduk kaum "
kesatria dan
sudra baru" tersebut.
Kelompok-kelompok brahmana semakin besar dengan mengikutsertakan orang
lokal, seperti pendeta dan rohaniwan lokal. Hal ini mengarah ke
stratifikasi bagi kaum brahmana, sehingga ada golongan brahmana yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan brahmana lainnya. Penarapan sistem kasta lebih sesuai bagi Hinduisme Puranis daripada aliran-aliran
Sramana (Buddha atau Jaina). Pustaka
Purana mencantumkan suatu
riwayat silsilah yang luas sehingga dapat memberikan status
kesatria baru bagi suatu golongan. Sementara itu,
ajaran Buddha menggambarkan pemerintah sebagai suatu kontrak antara orang yang terpilih dengan rakyat, dan
chakkavatti Buddhis adalah konsep yang berbeda dengan model penaklukkan yang dilakukan para kesatria dan kaum
Rajput Hindu.
Lukisan
Kresna sebagai
Gowinda atau "pelindung para sapi", dari abad ke-19.
Brahmanisme berdasarkan pustaka
Dharmasastra dan Smerti mengalami transformasi radikal di tangan para penyusun
Purana, mengakibatkan munculnya Hinduisme Puranis (
Puranic Hinduism), bagaikan "raksasa" yang melangkahi "cakrawala keagamaan", yang kemudian melintangi segala agama-agama yang ada.
Hinduisme Puranis merupakan sistem kepercayaan yang terdiri dari banyak
bagian yang tumbuh dan meluas dengan menyerap dan memadukan
gagasan-gagasan bertentangan dan berbagai tradisi pemujaan. Agama ini berbeda dengan Smarta yang menjadi pangkalnya. Perbedaan itu terletak pada ketenaran,
pluralisme teologis, pluralisme sekte, pengaruh
Tantra, dan pengutamaan
bhakti.
Banyak kepercayaan dan tradisi lokal yang diasimilasi ke dalam Hinduisme Puranis.
Wisnu dan
Siwa tampil sebagai dewa yang utama, berdampingan dengan
Sakti/
Dewi. Pemujaan kepada Wisnu akhirnya menimbulkan kultus
Narayana,
Jagatnata,
Wenkateswara, dan lain-lain. Menurut Nath:
Beberapa
inkarnasi Wisnu seperti
Matsya,
Kurma,
Waraha, dan bahkan
Narasinga membantu pemaduan simbol-simbol
totem
populer dan mitos penciptaan, khususnya yang berkaitan dengan babi
hutan, yang umumnya meresapi mitologi [masyarakat] prapustaka, sedangkan
[inkarnasi] lainnya seperti
Kresna dan
Balarama menjadi alat untuk mengasimilasi kultus dan mitos lokal yang berpusat pada dewa-dewa pedesaan dan pertanian.
[s]
Rama dan
Kresna menjadi pujaan utama dalam tradisi
bhakti, yang terutama diungkapkan dalam
Bhagawatapurana. Tradisi pemujaan Kresna melibatkan beberapa kultus berbasis
naga,
yaksa, bukit, dan pepohonan. Siwa menyerap kultus-kultus lokal dengan menambahkan kata
Isa atau
Iswara pada nama dewa-dewa lokal, contohnya
Buteswara,
Hatakeswara,
Candeswara. Dalam lingkungan keluarga raja pada abad ke-8, puja terhadap
Buddha mulai tergantikan oleh puja terhadap dewa-dewi Hindu. Pada periode itu pula, Buddha dimasukkan sebagai salah satu
awatara Wisnu.
Mazhab
Adwaita Wedanta yang non-dualistis—yang mendapat pengaruh
agama Buddha—dirumuskan kembali oleh
Adi Shankara dengan membuat sistematisasi karya-karya para filsuf pendahulunya. Pada masa kini, karena pengaruh
Orientalisme Barat dan
Perenialisme terhadap
Neo-Wedanta India dan
nasionalisme Hindu,
Adwaita Wedanta mendapatkan sambutan yang luas dalam kebudayaan India
dan di luar India sebagai contoh paradigmatis dari spiritualitas Hindu.
Kehadiran Islam dan sekte Hindu
Reruntuhan Candi
Somnath
pada tahun 1869. Candi ini pernah didirikan dan dihancurkan
berkali-kali selama periode penaklukan muslim di India, sampai akhirnya
dipugar pada tahun 1951.
Meskipun
Islam sudah datang ke
India sejak awal
abad ke-7 (seiring dengan kedatangan para pedagang Arab dan penaklukan Sindhu), agama tersebut menjadi agama utama selama periode
penaklukan Islam di Asia Selatan pada masa selanjutnya.
[320] Pada periode tersebut,
agama Buddha memudar secara drastis, dan banyak
umat Hindu pindah agama ke Islam. Banyak penguasa muslim beserta panglimanya, seperti
Aurangzeb dan
Malik Kafur yang menghancurkan tempat ibadah umat Hindu dan
menindas kaum non-muslim;
[323][324] akan tetapi, beberapa penguasa muslim seperti
Akbar bersikap lebih toleran.
Agama Hindu mengalami reformasi besar-besaran karena pengaruh Guru
Ramanuja yang terkemuka, serta Guru
Madhwa, dan Sri
Caitanya.
[320] Pengikut
gerakan Bhakti beralih dari konsep
Brahman yang abstrak—yang dianjurkan oleh filsuf
Adi Shankara berabad-abad sebelumnya—dengan tradisi kebaktian yang lebih bersemangat terhadap pemujaan para
awatara yang lebih mudah dibayangkan, terutama
Kresna dan
Rama.
[325] Menurut Nicholson, antara
abad ke-17 dan
ke-16, beberapa cendekiawan tertentu mulai menarik
benang merah pada kanekaragaman ajaran filosofis dalam
Upanishad,
wiracarita,
Purana, dan mazhab filsafat yang dikenal sebagai "enam sistem" (
saddarsana) dari
filsafat Hindu yang umum. Lorenzen menentukan bahwa asal mula identitas ke-Hindu-an yang khas berawal dari interaksi antara
muslim dan
umat Hindu, dan dari suatu proses pencarian jati diri yang membedakan diri dengan muslim, yang sudah dimulai sebelum 1800-an. Baik cendekiawan India atau pun Eropa—yang mempopulerkan istilah "Hinduisme" pada
abad ke-19—telah mendapat pengaruh dari filsafat tersebut. Michaels menggarisbawahi bahwa
historisasi muncul sebelum nasionalisme di kemudian hari, yang menyuarakan gagasan kejayaan agama Hindu dan masa lampau.
Hinduisme masa kini
Di tengah kekuasaan
British Raj (penjajahan
Inggris atas
India),
Renaisans Hindu mulai bangkit pada
abad ke-19, yang memberi perubahan besar bagi pemahaman akan agama Hindu, baik di India atau pun di Barat.
Indologi (disiplin ilmiah tentang kajian kebudayaan India dari sudut pandang
Eropa) didirikan pada abad ke-19, dipimpin oleh para ahli seperti
Max Müller dan
John Woodroffe. Mereka memboyong filsafat dan pustaka
Weda,
Purana, dan
Tantra ke Eropa. Para
orientalis mencari-cari "hakikat" agama-agama di India, dan menemukannya pada pustaka
Weda,
sambil membuat gagasan bahwa "Hinduisme" adalah suatu kesatuan dari
berbagai adat keagamaan dan gambaran populer mengenai ‘India yang
mistis’. Gagasan tersebut diambil alih oleh beberapa
gerakan reformasi Hindu seperti
Brahmo Samaj, yang didukung untuk sesaat oleh
Gereja Unitarian, bersama dengan gagasan
Universalisme dan
Perenialisme, yaitu gagasan bahwa seluruh agama memiliki dasar
mistisisme yang sama.
"Modernisme Hindu", dengan tokoh terkemuka seperti
Vivekananda,
Aurobindo, serta
Radhakrishnan menjadi panutan dalam pemahaman populer mengenai agama Hindu.
Tokoh Hindu yang berpengaruh pada
abad ke-20 adalah
Ramana Maharshi,
B.K.S. Iyengar,
Paramahansa Yogananda,
Swami Prabhupada (pendiri
ISKCON),
Sri Chinmoy, dan
Swami Rama,
yang menerjemahkan, merumuskan ulang, dan memperkenalkan pustaka dasar
agama Hindu bagi khalayak awam masa kini dengan imla yang baru,
mengangkat pandangan tentang
Yoga dan
Wedanta di
Dunia Barat, serta menarik pengikut baru dan perhatian masyarakat di India dan negara lainnya.
Pada abad ke-20, agama Hindu juga mendapatkan keunggulan sebagai
kekuatan politis dan acuan bagi jati diri bangsa India. Sejak pendirian
Hindu Mahasabha pada 1910-an, banyak gerakan bertumbuh dengan perumusan dan perkembangan ideologi
Hindutva pada dekade-dekade berikutnya; pendirian
Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) pada tahun 1925; dan percabangan RSS—yang kemudian berhasil—yaitu
Jana Sangha dan
Bharatiya Janata Party (BJP) dalam politik pemilu pada masa pascakemerdekaan India.
[336] Religiositas Hindu juga memainkan peran penting dalam gerakan nasionalis.
Pranata
Caturwarna
Masyarakat Hindu dikategorikan menjadi empat kelas, disebut
warna, yaitu sebagai berikut:
- Brahmana: pendeta dan guru kerohanian
- Kesatria: bangsawan, pejabat, dan tentara
- Waisya: petani, pedagang, dan wiraswasta
- Sudra: pelayan dan buruh
Kitab
Bhagawadgita menghubungkan
warna dengan kewajiban seseorang (
swadharma), pembawaan (
swabhāwa), dan kecenderungan alamiah (
guṇa).
[83] Berdasarkan pengertian
warna menurut
Bhagawadgita, tokoh spiritual Hindu
Sri Aurobindo membuat doktrin bahwa pekerjaan seseorang semestinya ditentukan oleh bakat dan kapasitas alaminya. Dalam kitab
Manusmerti terdapat pengelompokan kasta-kasta yang berbeda.
[340]
Mobilitas dan fleksibitas dalam warna menampik dugaan diskriminasi
sosial dalam sistem kasta, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa
sosiolog,
[341] meskipun beberapa ahli tidak sependapat. Para ahli memperdebatkan apakah
sistem kasta merupakan bagian dari Hinduisme yang diatur oleh kitab suci, ataukah sekadar adat masyarakat.
[344][345][t] Berbagai ahli berpendapat bahwa sistem kasta dibangun oleh
rezim kolonial Britania. Menurut guru rohani Hindu
Sri Ramakrishna (1836–1886):
Para pencinta Tuhan tidak tergolong dalam kasta
tertentu … Seorang brahmana tanpa cinta pada Tuhan bukanlah brahmana
lagi. Dan seorang
paria tanpa cinta pada Tuhan bukanlah paria lagi. Melalui
bhakti (pengabdian kepada Tuhan), seorang hina dina dapat menjadi suci dan derajatnya pun meningkat.
[348]
Menurut sastra
Wedanta, orang yang berada di luar warna disebut "
warnatita". Para ahli seperti
Adi Sankara menegaskan bahwa tidak hanya
Brahman
yang melampaui seluruh warna, namun seseorang yang dapat bersatu
dengan-Nya juga dapat melampaui seluruh perbedaan dan pembatasan
kasta-kasta.
Jenjang kehidupan
Secara tradisional, kehidupan umat Hindu terbagi menjadi empat
āśrama atau
caturasrama (empat fase atau empat tahapan). Bagian pertama dalam kehidupan seseorang adalah
Brahmacari,
yaitu masa menuntut ilmu. Tahap ini dilaksanakan sebelum masa kawin,
untuk dapat berkontemplasi secara murni dan bijaksana di bawah bimbingan
Guru, demi membangun pikiran dan fondasi spiritual. Tahap berikutnya adalah
Grehasta, yaitu tahap membangun kehidupan rumah tangga, dilaksanakan dengan cara menikah dan memenuhi
kāma (kenikmatan indria) dan
arta
(kemakmuran). Setelah berumah tangga, kewajiban moral yang dilaksanakan
meliputi: mengasuh anak, merawat orang tua, menghormati tamu dan orang
suci.
Setelah berumah tangga dalam jangka waktu tertentu, umat Hindu kemudian menempuh tahap
Wanaprasta,
yaitu masa pensiun atau masa melepaskan diri dari kesibukan duniawi.
Tahap ini dapat dilaksanakan dengan cara menyerahkan tanggung jawab
kepada keturunan, agar pensiunan mendapatkan lebih banyak kesempatan
untuk melakukan aktivitas keagamaan dan mengunjungi tempat-tempat suci.
Tahap yang terakhir adalah
Sannyasa,
yaitu masa menghabiskan sisa hidup dengan melakukan tapa brata, atau
berusaha melepaskan diri dari ikatan duniawi. Pelepasan tersebut
dilakukan dalam rangka menemukan Tuhan, serta untuk mencari cara
meninggalkan tubuh fana secara damai, agar mencapai suatu kondisi yang
disebut
moksa.
[349]
Praktik keagamaan
Praktik keagamaan Hindu biasanya bertujuan untuk mencari kesadaran
akan Tuhan, dan kadangkala mencari anugerah dari para dewa. Maka dari
itu, ada beragam praktik keagamaan dalam tubuh Hinduisme yang
dimaksudkan untuk membantu seseorang dalam upaya memahami Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari.
Persembahyangan
Dalam banyak praktik keagamaan dan ritual, umat Hindu biasanya mengucapkan
mantra.
Mantra adalah seruan, panggilan, atau doa yang membantu umat Hindu agar
dapat memusatkan pikiran kepada Tuhan atau dewa tertentu, melalui
kata-kata, suara, dan cara pelantunan. Pada pagi hari, di tepi sungai
yang dikeramatkan, banyak umat Hindu yang melaksanakan upacara
pembersihan sambil melantunkan
Gayatri Mantra atau mantra-mantra
Mahamrityunjaya. Wiracarita
Mahabharata mengagungkan
japa (lagu-lagu pujaan) sebagai kewajiban terbesar pada masa
Kaliyuga (zaman sekarang,
3102 SM–kini).
[351] Banyak aliran yang mengadopsi
japa sebagai praktik spiritual yang utama.
[351]
Praktik spiritual Hindu yang cukup populer adalah
Yoga.
Yoga merupakan ajaran Hindu yang gunanya melatih kesadaran demi
kedamaian, kesehatan, dan pandangan spiritual. Hal ini dilakukan melalui
seperangkat latihan dan pembentukan posisi tubuh untuk mengendalikan
raga dan pikiran.
[352]
Bhajan merupakan praktik pelantunan lagu-lagu pujian. Praktik ini memiliki bentuk beragam: dapat berupa
mantra semata atau
kirtan, atau berupa
dhrupad atau
kriti dengan musik berdasarkan
raga dan
tala menurut
musik klasik India.
[353] Biasanya,
bhajan mengandung syair untuk mengungkapkan cinta kepada Tuhan. Istilah tersebut sepadan dengan
bhakti yang artinya "pengabdian religius", menyiratkan pentingnya
bhajan bagi
gerakan bhakti yang menyebar dari India bagian selatan ke seluruh subkontinen India pada masa
Moghul.
Penggalan cerita dari kitab suci, ajaran para orang suci, serta deskripsi para dewa telah menjadi subjek bagi pelaksanaan
bhajan. Tradisi
dhrupad,
qawwali Sufi, dan
kirtan atau lagu dalam tradisi
Haridasi berkaitan dengan
bhajan.
Nanak,
Kabir,
Meera,
Narottama Dasa,
Surdas, dan
Tulsidas adalah para pujangga
bhajan terkemuka. Tradisi dalam
bhajan
seperti Nirguni, Gorakhanathi, Vallabhapanthi, Ashtachhap,
Madhura-bhakti, dan Sampradya Bhajan dari India Selatan memiliki
repertoar dan cara pelantunan masing-masing.
Upacara
Upacara
choroonu (nama lain dari
annaprashan) di
Kerala.
Banyak umat Hindu dari berbagai aliran yang melaksanakan ritual keagamaan sehari-hari.
[356] Banyak umat Hindu yang melaksanakannya di rumah,
[357]
tetapi pelaksanaannya berbeda-beda tergantung daerah, desa, dan
kecenderungan umat itu sendiri. Umat Hindu yang saleh melaksanakan
ritual sehari-hari seperti sembahyang subuh sehabis mandi (biasanya di
kamar suci/tempat suci keluarga, dan biasanya juga diiringi dengan
menyalakan pelita serta menghaturkan sesajen ke hadapan arca dewa-dewi),
membaca kitab suci berulang-ulang, menyanyikan lagu-lagu pemujaan,
meditasi, merapalkan mantra-mantra, dan lain-lain.
[357]
Ciri menonjol dalam ritual keagamaan Hindu adalah pembedaan antara yang
murni dan sudah tercemar. Ada aturan yang mengisyaratkan bagaimana
kondisi-kondisi yang dikatakan tercemar atau tak murni lagi, sehingga
pelaksana upacara harus melakukan pembersihan atau pemurnian kembali
sebelum upacara dimulai. Maka dari itu, penyucian—biasanya dengan
air—menjadi ciri umum dalam kebanyakan aktivitas keagamaan Hindu.
[357]
Ciri lainnya meliputi kepercayaan akan kemujaraban upacara dan konsep
pahala yang diperoleh melalui kemurahan hati atau keikhlasan, yang akan
bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu sehingga mengurangi penderitaan di
kehidupan selanjutnya.
[357]
Ritus dengan sarana api (
yadnya)
kini tidak dilakukan sesering mungkin, meskipun pelaksanaannya sangat
diagungkan dalam teori. Akan tetapi, dalam upacara pernikahan dan
pemakaman adat Hindu, pelaksanaan yadnya dan perapalan
mantra-mantra Weda masih disesuaikan dengan norma.
[358]
Beberapa upacara juga berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai
contoh, pada masa beberapa abad yang lalu, persembahan tarian dan musik
sakral menurut kaidah
Sodasa Upachara yang standar—sebagaimana tercantum dalam
Agamashastra—tergantikan oleh persembahan dari nasi dan gula-gula.
Peristiwa seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian melibatkan
seperangkat tradisi Hindu yang terperinci. Dalam agama Hindu, upacara
bagi "siklus kehidupan" meliputi
Annaprashan (ketika bayi dapat memakan makanan yang keras untuk pertama kalinya),
Upanayanam (pelantikan anak-anak kasta menengah ke atas saat mulai menempuh pendidikan formal), dan
Śrāddha
(upacara menjamu orang-orang dengan makanan karena bersedia melantunkan
doa-doa kepada "Tuhan" agar jiwa mendiang mendapatkan kedamaian).
[359][360]
Untuk perihal pernikahan, bagi sebagian besar masyarakat India, masa
pertunangan pasangan muda-mudi serta tanggal dan waktu pernikahan
ditentukan oleh para orang tua dengan konsultasi ahli perbintangan.
[359] Untuk perihal kematian,
kremasi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kerabat mendiang, kecuali bila mendiang adalah
sanyasin,
hijra,
atau anak di bawah lima tahun. Biasanya, kremasi dilakukan dengan
membungkus jenazah dengan pakaian terlebih dahulu, lalu membakarnya
dengan api unggun.
Ahimsa

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Ahimsa
Umat Hindu menganjurkan praktik
ahimsa (
ahiṃsā; artinya "tanpa kekerasan") dan penghormatan kepada seluruh bentuk kehidupan karena mereka meyakini bahwa "
percikan dari Tuhan" juga meresap ke dalam setiap makhluk hidup, termasuk tumbuhan dan hewan.
[361] Istilah ahimsa disebutkan dalam kitab-kitab
Upanishad[362] dan wiracarita
Mahabharata. Ahimsa adalah yang pertama di antara lima
yama (
pancayamabrata; lima prinsip pengendalian diri) dalam
Yogasutra Patanjali, dan menjadi prinsip pertama bagi seluruh anggota
Warnasramadarma (brahmana, ksatria, waisya, dan sudra) menurut
Manusmerti.
[364]
Konsep ahimsa dalam Hinduisme tidak seketat
agama Buddha dan
Jainisme, karena jejak keberadaan praktik-praktik pengorbanan dapat ditelusuri dalam kitab-kitab
Weda, contohnya mantra-mantra untuk kurban kambing (dalam
Regweda),
[365] kurban kuda (
Aswameda, dalam
Yajurweda), dan kurban manusia (
Purusameda, dalam
Yajurweda),
[366] sedangkan dalam ritus
Jyotistoma ada tiga hewan yang dikurbankan melalui upacara yang masing-masing disebut
Agnisomiya,
Sawaniya, dan
Anubandya.
Yajurweda dianggap sebagai
Weda pengorbanan dan ritual,
[367][368] serta menyebutkan beberapa ritus pengurbanan hewan, contohnya mantra dan prosedur pengurbanan kambing putih kepada
Bayu, seekor anak lembu kepada
Saraswati, seekor sapi bertutul kepada
Sawitr, seekor banteng kepada
Indra, seekor sapi yang dikebiri kepada
Baruna, dan lain-lain.
[370]
Tanggapan yang menentang pelaksanaan kurban datang dari aliran
Carwaka yang menuliskan kritik mereka dalam
Barhaspatyasutra (abad ke-3 SM) sebagai berikut:
"Jika hewan yang dikurbankan dalam ritus Jyotistoma akan segera mencapai surga,
mengapa si pelaksana tidak segera mengurbankan ayahnya saja?"
Pada masa perkembangan Hinduisme dan Buddhisme di India, para raja Buddhis seperti
Ashoka memengaruhi rakyatnya dengan larangan pelaksanaan kurban.
[366] Pada masa pemerintahan Ashoka, sebuah titah diberlakukan dan dituliskan pada sebuah batu, dengan kata-kata sebagai berikut:
"Ini adalah titah dari orang yang disayangi para dewa,
Raja Piyadasi. Tindak pembunuhan kepada hewan tidak boleh dilakukan untuk seterusnya."
[366]
Dari sini, reaksi sosial berkenaan dengan kitab tata cara pengorbanan (
Brahmana) dapat ditelusuri.
[366] Menurut
Panini, ada dua macam
Brahmana, yaitu
Brahmana Lama dan
Brahmana Baru.
[366] Dalam Brahmana Lama—seperti
Aitareya Brahmana untuk
Regweda—pengorbanan benar-benar dilakukan, namun dalam Brahmana Baru seperti
Shatapatha Brahmana, hewan kurban dilepaskan setelah terikat pada tiang pengorbanan.
[366] Hal ini merupakan reaksi dari kebangkitan agama-agama
Sramana—seperti
agama Buddha dan
Jainisme—yang berakibat pada peletakan konsep
ahimsa di kalangan praktisi kitab
Brahmana.
Vegetarianisme
Masakan vegetarian khas India Utara yang disajikan di suatu restoran di
Tokyo,
Jepang.
Sesuai dengan konsep
ahimsa, maka banyak umat Hindu yang mengikuti
vegetarianisme
(tidak makan daging) demi menghormati bentuk kehidupan yang
tingkatannya tinggi. Sejumlah umat justru pantang makan daging hanya
pada hari-hari tertentu. Budaya makan juga bervariasi sesuai komunitas
dan kawasan. Sebagai contoh, beberapa kasta memiliki sedikit penganut
vegetarianisme, sedangkan masyarakat pesisir cenderung bergantung kepada
masakan laut.
[372][373] Perkiraan jumlah
lakto-vegetarian di
India (mencakup umat seluruh agama di sana) bervariasi antara 20% dan 42%.
[u]
Dalam agama Hindu, kemurnian makanan bersifat sangat penting karena
ada keyakinan bahwa makanan mencerminkan tiga kualitas sifat (
triguna) yang umum, yaitu: kesucian (
satwam), semangat (
rajas), dan kelambanan (
tamas). Maka dari itu, aturan makan yang sehat akan menjadi sesuatu yang turut membersihkan hati seseorang.
[374]
Berdasarkan alasan tersebut, umat Hindu dianjurkan untuk menghindari
atau meminimalkan konsumsi makanan yang tidak meningkatkan kebersihan
hati. Beberapa contoh makanan yang dimaksud adalah
bawang merah dan
bawang putih, yang diyakini mengandung sifat
rajas (keadaan yang dicirikan oleh sifat suka menentang dan egois), serta
daging (daging dari hewan apa pun), yang diyakini mengandung sifat
tamas (keadaan yang dicirikan oleh kemarahan, kerakusan, dan iri hati).
[375]
Vegetarianisme dianjurkan oleh sejumlah aliran Hinduisme—meliputi
Waisnawa dan
Saiwa—yang melarang pengorbanan hewan,
[376] tetapi tidak dianjurkan oleh aliran Hinduisme yang mengizinkan pengorbanan hewan. Pada umumnya, pengorbanan hewan dilakukan oleh umat Hindu dari aliran
Sakta, (beberapa) komunitas Hindu dari golongan
sudra dan kesatria, penganut aliran Hinduisme di India Timur, serta penganut aliran Hinduisme di
Asia Tenggara.
Pada umumnya, umat Hindu yang mengonsumsi daging tidak akan mau memakan
daging sapi. Dalam masyarakat Hindu, sapi dipercaya sebagai pengasuh manusia serta merupakan figur keibuan, dan mereka menghormatinya sebagai lambang kasih tak bersyarat. Maka dari itu, praktik penyembelihan sapi dilarang secara resmi di hampir seluruh negara bagian di India.
[384]
Pada masa kini, ada banyak kelompok keagamaan Hindu yang menekankan
praktik vegetarianisme yang ketat. Salah satu contoh yang terkenal
adalah gerakan
ISKCON (
International Society for Krishna Consciousness), yang mewajibkan pengikutnya untuk tidak hanya pantang makan daging (termasuk
ikan dan
unggas), tetapi juga menghindari sayuran/tumbuhan tertentu yang dianggap dapat memberikan pengaruh negatif, seperti
bawang merah,
bawang putih,
[374] dan
jamur.
[385] Contoh yang kedua adalah gerakan
Swaminarayan. Pengikut gerakan ini juga sangat setia untuk tidak mengkonsumsi daging, telur, dan ikan.
Pertapaan
Sejumlah umat Hindu memilih untuk hidup sebagai petapa (
Sanyāsa) dalam upaya mencapai "
moksa"
atau pun bentuk kesempurnaan spiritual lainnya. Para petapa berkomitmen
untuk hidup sederhana, tidak berhubungan seksual, tidak mencari harta
duniawi, serta berkontemplasi tentang Tuhan.
[387] Petapa Hindu disebut
sanyasin,
sadu, atau
swāmi, sedangkan yang wanita disebut
sanyāsini.
Orang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi memperoleh respek yang
tinggi dalam masyarakat Hindu karena egoisme dan ikatan duniawi yang
mereka lepaskan menjadi inspirasi bagi umat yang masih berkeluarga untuk
berjuang dalam pengendalian pikiran. Beberapa petapa tinggal di
tempat suci atau
asrama,
sedangkan yang lainnya berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan
keyakinan bahwa hanya Tuhan yang dapat memenuhi keinginan mereka.
[388]
Bagi umat Hindu awam, menyediakan makanan dan kebutuhan untuk para
petapa atau sadu merupakan jasa yang sangat besar. Sebaliknya, para sadu
menerimanya dengan rasa hormat dan simpati—tanpa memedulikan orang
miskin atau kaya, baik atau jahat—tanpa perlu memuji, mencela,
menunjukkan rasa senang, atau pun sedih.
[387]
Tempat suci
Tempat suci atau tempat peribadatan umat Hindu pada umumnya disebut
kuil. Beberapa istilah lokal untuk menyebut tempat suci Hindu meliputi
candi,
pura,
mandir,
devasthana,
ksetram,
dharmakshetram,
koil,
deula,
wat, dan
bale keramat. Pembangunan kuil dan tata cara persembahyangan diatur dalam beberapa kitab berbahasa Sanskerta yang disebut
Agama, yang berhubungan dengan dewa-dewi individual. Ada perbedaan substansial dalam
arsitektur, adat,
ritual, dan tradisi mengenai kuil di berbagai wilayah India.
[389]
Umat Hindu dapat menyelenggarakan
puja
(persembahyangan atau kebaktian) di rumah atau kuil. Untuk peribadatan
di rumah, biasanya umat Hindu membuat kamar suci atau kuil kecil dengan
ikon atau
altar yang didedikasikan bagi dewa atau dewi tertentu (
istadewata), misalnya
Kresna,
Ganesa,
Durga,
dewa-dewi lokal, atau entitas lainnya yang dihormati (misalnya leluhur
atau roh pelindung). Umat Hindu melakukan persembahyangan melalui suatu
murti atau
pratima, dapat berupa
arca,
lingga, atau sesuatu lainnya—sebagai lambang dari dewa yang dipuja—yang disakralkan/disucikan terlebih dahulu melalui suatu upacara.
Biasanya, bangunan kuil didedikasikan sebagai tempat pemujaan kepada
suatu dewa utama beserta dewa-dewi sekunder yang terkait. Adapula
bangunan kuil yang didedikasikan untuk beberapa dewa sekaligus. Bagi
sebagian besar umat Hindu di India, mengunjungi kuil bukanlah suatu
kewajiban,
[390] dan banyak umat yang mengunjungi kuil hanya pada saat ada perayaan/hari raya.
Murti atau pratima dalam kuil berperan sebagai medium antara umat dan Tuhan.
[391]
Pencitraan murti dianggap sebagai perwakilan atau manifestasi dari
Tuhan, sebab umat Hindu meyakini bahwa Tuhan ada di mana-mana. Meskipun
demikian, ada golongan umat Hindu yang tidak melakukan persembahyangan
dengan murti dalam bentuk apa pun; contoh yang terkemuka adalah aliran
Arya Samaj.
Simbolisme
Dalam agama Hindu ada aturan tentang simbolisme dan ikonografi untuk
ditampilkan dalam karya seni, arsitektur, dan pustaka yang disakralkan.
Makna simbol-simbol tersebut dicantumkan dalam kitab suci, mitologi,
serta tradisi masyarakat. Suku kata
om (yang melambangkan
Parabrahman) dan
swastika
(yang melambangkan keberuntungan) telah berkembang (dalam sejarahnya)
sebagai lambang bagi agama Hindu, sedangkan petanda lainnya seperti
tilaka memberi ciri mengenai aliran atau kepercayaan yang dianut. Umat Hindu juga menyangkutpautkan beberapa simbol—meliputi bunga
teratai (
padma),
cakra, dan
veena—dengan dewa-dewi tertentu.
-
-
-
Trisula, lambang Siwa dan pengikutnya.
-
Padma, simbol kemurnian dan ketidakterikatan.
-
-
-
-
-
Seorang gadis Hindu
Rusia dengan
bindi di dahinya.